berita
Penguatan Daya Saing Produk Pertanian Menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) 2015
Pada tahun 2015 akan diberlakukannya Masyarakat Ekonomi Asean (MEA). MEA terwujud dari keinginan negara-negara ASEAN untuk mewujudkan ASEAN menjadi kawasan perekonomian yang solid, dan diperhitungkan dalam percaturan perekonomian internasional

Kamis, 16 Okt 2014


Pada tahun 2015 akan diberlakukannya Masyarakat Ekonomi Asean (MEA). MEA terwujud dari keinginan negara-negara ASEAN untuk mewujudkan ASEAN menjadi kawasan perekonomian yang solid, dan diperhitungkan dalam percaturan perekonomian internasional.

Integrasi ekonomi yang diterapkan dalam MEA bukan merupakan integrasi perekonomian, seperti yang diterapkan oleh Uni Eropa (European Union) yang memberlakukan mata uang tunggal (euro). Tujuan yang ingin dicapai MEA adalah adanya aliran bebas barang, jasa dan tenaga kerja terlatih serta aliran investasi yang lebih bebas. Indonesia dengan penduduk terbanyak di ASEAN merupakan pasar potensial untuk aliran masuk barang, jasa dan tenaga kerja bagi negara lainnya di ASEAN.

Hal tersebut perlu disadari, bahwa Indonesia merupakan pangsa pasar terbesar di ASEAN sangat berpotensi masuknya barang-barang konsumsi, yang memiliki nilai positif bagi konsumen. Namun demikian, nilai tambah akan lebih dirasakan bagi perekonomian jika produk-produk Indonesia khususnya produk pertanian yang  dapat menginvasi negara-negara di ASEAN. Dalam hal ini diperlukan peningkatan daya saing diberbagai komponen diantaranya sumberdaya manusia dan peningkatan disektor pelaku usaha.

Peningkatan daya saing sumberdaya manusia dilakukan dengan peningkatan daya saing birokrasi, melalui peningkatan kemampuan dalam mempersiapkan, merumuskan dan menerapkan kebijakan publik sebagai daya saing negara, peningkatan daya saing pelaku usaha melalui peningkatan teknologi yang efisien, dan ramah lingkungan serta manajemen usaha tani yang baik.

Dengan kata lain para pelaku usaha harus sudah siap menerapkan Good Agriculture Practice (GAP) sebagai jaminan bahwa produk pertanian yang dihasilkan melalui cara-cara yang aman, bermutu, berwawasan lingkungan serta memperhatikan kesehatan dan standar keamanan pangan untuk dikonsumsi. Inilah yang akan menjadikan daya saing produk pertanian Indonesia.

Di sisi lain, Kementerian Pertanian secara kelembagaan dan sumberdaya manusia telah siap memberikan sertifikat GAP melalui OKKP-P dan OKKP-D, yang didukung oleh Fungsional Pengawas Mutu Hasil Pertanian (PMHP) sebagai Auditor atau Inspektor dan Laboratorium Penguji Mutu dan Keamanan Produk Pertanian. Dengan demikian, produk pertanian Indonesia tidak hanya menjadi tuan rumah di negara sendiri, tetapi juga akan mampu bersaing di pasar global atau di negara-negara ASEAN.

Pada tahun 2015 akan diberlakukannya Masyarakat Ekonomi Asean (MEA). MEA terwujud dari keinginan negara-negara ASEAN untuk mewujudkan ASEAN menjadi kawasan perekonomian yang solid, dan diperhitungkan dalam percaturan perekonomian internasional.

Integrasi ekonomi yang diterapkan dalam MEA bukan merupakan integrasi perekonomian, seperti yang diterapkan oleh Uni Eropa (European Union) yang memberlakukan mata uang tunggal (euro). Tujuan yang ingin dicapai MEA adalah adanya aliran bebas barang, jasa dan tenaga kerja terlatih serta aliran investasi yang lebih bebas. Indonesia dengan penduduk terbanyak di ASEAN merupakan pasar potensial untuk aliran masuk barang, jasa dan tenaga kerja bagi negara lainnya di ASEAN.

Hal tersebut perlu disadari, bahwa Indonesia merupakan pangsa pasar terbesar di ASEAN sangat berpotensi masuknya barang-barang konsumsi, yang memiliki nilai positif bagi konsumen. Namun demikian, nilai tambah akan lebih dirasakan bagi perekonomian jika produk-produk Indonesia khususnya produk pertanian yang  dapat menginvasi negara-negara di ASEAN. Dalam hal ini diperlukan peningkatan daya saing diberbagai komponen diantaranya sumberdaya manusia dan peningkatan disektor pelaku usaha.

Peningkatan daya saing sumberdaya manusia dilakukan dengan peningkatan daya saing birokrasi, melalui peningkatan kemampuan dalam mempersiapkan, merumuskan dan menerapkan kebijakan publik sebagai daya saing negara, peningkatan daya saing pelaku usaha melalui peningkatan teknologi yang efisien, dan ramah lingkungan serta manajemen usaha tani yang baik.

Dengan kata lain para pelaku usaha harus sudah siap menerapkan Good Agriculture Practice (GAP) sebagai jaminan bahwa produk pertanian yang dihasilkan melalui cara-cara yang aman, bermutu, berwawasan lingkungan serta memperhatikan kesehatan dan standar keamanan pangan untuk dikonsumsi. Inilah yang akan menjadikan daya saing produk pertanian Indonesia.

Di sisi lain, Kementerian Pertanian secara kelembagaan dan sumberdaya manusia telah siap memberikan sertifikat GAP melalui OKKP-P dan OKKP-D, yang didukung oleh Fungsional Pengawas Mutu Hasil Pertanian (PMHP) sebagai Auditor atau Inspektor dan Laboratorium Penguji Mutu dan Keamanan Produk Pertanian. Dengan demikian, produk pertanian Indonesia tidak hanya menjadi tuan rumah di negara sendiri, tetapi juga akan mampu bersaing di pasar global atau di negara-negara ASEAN.

berita lain