berita
Waspadai Aturan Uni Eropa tentang Endocrine Disruptors
Bagi indonesia, ketentuan ini diperkirakan akan menurunkan nilai ekspor ke UE sebesar 3.3 juta Euro. Produk pertanian/pangan yang terpengaruh adalah minyak nabati, kopi, dan bahan pakan hewan.

Rabu, 04 Mar 2015


PPHP News - Komisi Eropa saat ini sedang meninjau kembali peraturan tentang pembatasan kadar kandungan zat bahan pangan hasil pertanian yang dapat dikategorikan sebagai Endocrine Disruptors (ED). Endocrine Disruptors adalah zat yang mengganggu sintesis, sekresi, transportasi, ikatan, tindakan, atau penghapusan hormon alami dalam tubuh manusia yang antara lain berfungsi untuk mengatur perilaku, mendukung kesuburan dan pemeliharaan metbolisme sel secara normal.

Berdasarkan informasi dari KBRI Brussels, Federasi Internasional tentang agrikultur dan bioteknologi yang salah satu anggotanya adalah European Crop Protection (ECPA) bekerjasama dengan CropLife Amerika dan Kanada pada bulan Februari 2014 telah memperhitungkan dampak ekonomi penerapan aturan larangan perdagangan produk yang mengandung pengganggu hormon ini. Dengan menggunakan kriteria bahwa semua produk yang mengandung ED dan potensial mengandung ED dilarang masuk ke pasar UE, maka akan terjadi penurunan nilai perdagangan produk pertanian/pangan dunia sebesar 65,3 Milyar Euro.

Penurunan nilai perdagangan tersebut mencakup (dalam milyar euro): buah-buahan dan biji-bijian (13,8), pakan hewan (9.8), bijian minyak dan  kacang-kacangan (9.6), kopi, teh, dan rempah (9.5), minyak nabati (8.2), serealia (4.6), cocoa (4.3), sayuran (3.5), dan gula (2.0). Bagi indonesia, ketentuan ini diperkirakan akan menurunkan nilai ekspor ke UE sebesar 3.3 juta Euro. Produk pertanian/pangan yang terpengaruh adalah minyak nabati, kopi, dan bahan pakan hewan.

Adanya potensi dampak negatif terhadap perdagangan produk pertanian Indonesia akibat peraturan ED ini patut diwaspadai. Guna mengantisipasi kemungkinan dampak tersebut, maka bisa dipertimbangkan pengaturan kembali jenis pestisida dan biosida yang aman digunakan dalam pertanian (diseluruh rantai produksi pertanian) agar ekspor produk pertanian/pangan ke UE tidak terhambat. (ddn-pi)

PPHP News - Komisi Eropa saat ini sedang meninjau kembali peraturan tentang pembatasan kadar kandungan zat bahan pangan hasil pertanian yang dapat dikategorikan sebagai Endocrine Disruptors (ED). Endocrine Disruptors adalah zat yang mengganggu sintesis, sekresi, transportasi, ikatan, tindakan, atau penghapusan hormon alami dalam tubuh manusia yang antara lain berfungsi untuk mengatur perilaku, mendukung kesuburan dan pemeliharaan metbolisme sel secara normal.

Berdasarkan informasi dari KBRI Brussels, Federasi Internasional tentang agrikultur dan bioteknologi yang salah satu anggotanya adalah European Crop Protection (ECPA) bekerjasama dengan CropLife Amerika dan Kanada pada bulan Februari 2014 telah memperhitungkan dampak ekonomi penerapan aturan larangan perdagangan produk yang mengandung pengganggu hormon ini. Dengan menggunakan kriteria bahwa semua produk yang mengandung ED dan potensial mengandung ED dilarang masuk ke pasar UE, maka akan terjadi penurunan nilai perdagangan produk pertanian/pangan dunia sebesar 65,3 Milyar Euro.

Penurunan nilai perdagangan tersebut mencakup (dalam milyar euro): buah-buahan dan biji-bijian (13,8), pakan hewan (9.8), bijian minyak dan  kacang-kacangan (9.6), kopi, teh, dan rempah (9.5), minyak nabati (8.2), serealia (4.6), cocoa (4.3), sayuran (3.5), dan gula (2.0). Bagi indonesia, ketentuan ini diperkirakan akan menurunkan nilai ekspor ke UE sebesar 3.3 juta Euro. Produk pertanian/pangan yang terpengaruh adalah minyak nabati, kopi, dan bahan pakan hewan.

Adanya potensi dampak negatif terhadap perdagangan produk pertanian Indonesia akibat peraturan ED ini patut diwaspadai. Guna mengantisipasi kemungkinan dampak tersebut, maka bisa dipertimbangkan pengaturan kembali jenis pestisida dan biosida yang aman digunakan dalam pertanian (diseluruh rantai produksi pertanian) agar ekspor produk pertanian/pangan ke UE tidak terhambat. (ddn-pi)

berita lain