berita
PETANI JAWA BARAT : KAMI SIAP MENGHADAPI MEA 2015
Tahun 2015, sebanyak 2 gapoktan diproyeksikan akan mampu mengekspor secara langsung diantaranya Gapoktan Agro Segar dari Cianjur - Jawa Barat dan Sri Mekar Tani dari Brebes - Jawa Tengah

Selasa, 10 Mar 2015


PPHP News - Tak bisa dipungkiri bahwa saat ini sebagian besar pelaku usaha di Indonesia khususnya UKM maupun petani kecil masih harap – harap cemas menyongsong  Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) yang akan bergulir pada 31 Desember 2015.

MEA 2015 memang selama ini dilihat dari dua dimensi, yaitu dimensi ancaman dan dimensi peluang. Mereka yang melihatnya sebagai ancaman, menganggap Indonesia hanya sebagai pasar bagi negara lain. Di sisi lain, banyak peluang yang bisa diperoleh dari perjanjian antarnegara se-Asia Tenggara itu. Untuk sektor Pertanian, Pemerintah dalam hal ini Kementerian Pertanian RI tengah berupaya mempersiapkan diri salah satunya dengan memperkuat kapasitas dan kapabilitas petani menghasilkan produk pertanian berorientasi ekspor.

“Petani yang sanggup menghasilkan produk dengan standar kualitas ekspor, akan mampu menuai hasil saat pemberlakuan MEA 2015 atau paling tidak dapat survive di pasar dalam negeri”. Hal tersebut disampaikan oleh Trisna Insan Noor, Ketua Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) Unpad pada acara sarasehan bertajuk “Peningkatan Capacity Building Kelompok Tani Orientasi Ekspor sebagai persiapan menghadapi MEA” tanggal 3 – 4 Maret 2015 di Pangandaran, Jawa Barat yang diikuti oleh para petani dari Jawa Barat dan sekitarnya. Acara sarasehan ini merupakan kerjasama antara Ditjen PPHP, Kementerian Pertanian RI dengan LPPM Unpad dengan tujuan peningkatan kemampuan petani untuk mengekspor produknya secara langsung.

Tahun 2015, sebanyak 2 gapoktan diproyeksikan akan mampu mengekspor secara langsung diantaranya Gapoktan Agro Segar dari Cianjur - Jawa Barat dan Sri Mekar Tani dari Brebes - Jawa Tengah. Dengan berbekal pengalaman menyuplai 500 – 1000 kg / hari 60 jenis sayuran exotic ke restoran Jepang & Korea di Jakarta, Santoso selaku ketua Gapoktan Agro Segar optimis mampu mengekspor gobo (burdock root) ke Jepang atau yang biasa disebut dengan “ginsengnya orang Jepang” terlebih saat ini permintaan gobo di Jepang cukup tinggi dengan harga yang menjanjikan. Nada optimisme juga terlontar dari Ikhwan Arif, ketua Gapoktan Sri Mekar Tani, menurutnya pasar ekspor memang sangat menggiurkan karena disamping harganya tinggi, permintaan dari luar cenderung banyak dan relatif stabil. Ikhwan mengatakan selama ini dirinya telah bermitra dengan eksportir bawang merah dengan volume 200 ton / tahun dengan tujuan ekspor Thailand dan Malaysia. Untuk tahun 2015 dirinya akan mencoba mengekspor secara langsung dengan harapan kesejahteraan petani yang tergabung dalam kelompoknya meningkat.

“Memang tidak semua gapoktan memiliki kapabilitas yang sama khususnya dalam hal kemampuan mengekspor produknya secara langsung, maka dari itu salah satu strategi yang dapat ditempuh adalah dengan membangun kemitraan antar gapoktan dengan gapoktan yang sudah berpengalaman mengekspor produknya” ujar Trisna. Trisna mencontohkan bahwa saat ini Kelompok Tani Agribisnis Ubi Cilembu Pelopor dari Sumedang sudah mampu mengekspor ubi cilembu secara langsung sebanyak 30 ton per bulan ke Hongkong, Malaysia dan Singapura bahkan pada November tahun ini sudah siap untuk ekspor ke Jepang. Akses pasar dan kemampuan ekspor yang sudah dimiliki oleh Kelompok Tani Agribisnis Ubi Cilembu Pelopor inilah yang dapat dimanfaatkan oleh gapoktan lainnya dengan menitipkan produknya agar mampu menembus negara – negara tersebut.

Impian gapoktan untuk dapat mengekspor secara langsung dipastikan memerlukan dukungan sumber permodalan yang kuat, perwakilan dari Bank BRI yang hadir menyatakan komitmennya untuk membantu permodalan bagi gapoktan yang ingin mengembangkan skala usahanya disamping itu, perwakilan dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) juga memberikan dukungan secara tidak langsung bagi gapoktan khususnya dalam bentuk jaminan dari sisi sistem pengaturan dan pengawasan terhadap kegiatan di sektor jasa keuangan.

Peningkatan kapasitas petani menghasilkan produk berorientasi ekspor ditambah dengan dukungan dari pemerintah serta lembaga pembiayaan merupakan modal penting yang akan semakin memperkuat keyakinan petani kita mampu bersaing saat MEA 2015 bergulir. -Subdit Pemasaran Bilateral

PPHP News - Tak bisa dipungkiri bahwa saat ini sebagian besar pelaku usaha di Indonesia khususnya UKM maupun petani kecil masih harap – harap cemas menyongsong  Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) yang akan bergulir pada 31 Desember 2015.

MEA 2015 memang selama ini dilihat dari dua dimensi, yaitu dimensi ancaman dan dimensi peluang. Mereka yang melihatnya sebagai ancaman, menganggap Indonesia hanya sebagai pasar bagi negara lain. Di sisi lain, banyak peluang yang bisa diperoleh dari perjanjian antarnegara se-Asia Tenggara itu. Untuk sektor Pertanian, Pemerintah dalam hal ini Kementerian Pertanian RI tengah berupaya mempersiapkan diri salah satunya dengan memperkuat kapasitas dan kapabilitas petani menghasilkan produk pertanian berorientasi ekspor.

“Petani yang sanggup menghasilkan produk dengan standar kualitas ekspor, akan mampu menuai hasil saat pemberlakuan MEA 2015 atau paling tidak dapat survive di pasar dalam negeri”. Hal tersebut disampaikan oleh Trisna Insan Noor, Ketua Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) Unpad pada acara sarasehan bertajuk “Peningkatan Capacity Building Kelompok Tani Orientasi Ekspor sebagai persiapan menghadapi MEA” tanggal 3 – 4 Maret 2015 di Pangandaran, Jawa Barat yang diikuti oleh para petani dari Jawa Barat dan sekitarnya. Acara sarasehan ini merupakan kerjasama antara Ditjen PPHP, Kementerian Pertanian RI dengan LPPM Unpad dengan tujuan peningkatan kemampuan petani untuk mengekspor produknya secara langsung.

Tahun 2015, sebanyak 2 gapoktan diproyeksikan akan mampu mengekspor secara langsung diantaranya Gapoktan Agro Segar dari Cianjur - Jawa Barat dan Sri Mekar Tani dari Brebes - Jawa Tengah. Dengan berbekal pengalaman menyuplai 500 – 1000 kg / hari 60 jenis sayuran exotic ke restoran Jepang & Korea di Jakarta, Santoso selaku ketua Gapoktan Agro Segar optimis mampu mengekspor gobo (burdock root) ke Jepang atau yang biasa disebut dengan “ginsengnya orang Jepang” terlebih saat ini permintaan gobo di Jepang cukup tinggi dengan harga yang menjanjikan. Nada optimisme juga terlontar dari Ikhwan Arif, ketua Gapoktan Sri Mekar Tani, menurutnya pasar ekspor memang sangat menggiurkan karena disamping harganya tinggi, permintaan dari luar cenderung banyak dan relatif stabil. Ikhwan mengatakan selama ini dirinya telah bermitra dengan eksportir bawang merah dengan volume 200 ton / tahun dengan tujuan ekspor Thailand dan Malaysia. Untuk tahun 2015 dirinya akan mencoba mengekspor secara langsung dengan harapan kesejahteraan petani yang tergabung dalam kelompoknya meningkat.

“Memang tidak semua gapoktan memiliki kapabilitas yang sama khususnya dalam hal kemampuan mengekspor produknya secara langsung, maka dari itu salah satu strategi yang dapat ditempuh adalah dengan membangun kemitraan antar gapoktan dengan gapoktan yang sudah berpengalaman mengekspor produknya” ujar Trisna. Trisna mencontohkan bahwa saat ini Kelompok Tani Agribisnis Ubi Cilembu Pelopor dari Sumedang sudah mampu mengekspor ubi cilembu secara langsung sebanyak 30 ton per bulan ke Hongkong, Malaysia dan Singapura bahkan pada November tahun ini sudah siap untuk ekspor ke Jepang. Akses pasar dan kemampuan ekspor yang sudah dimiliki oleh Kelompok Tani Agribisnis Ubi Cilembu Pelopor inilah yang dapat dimanfaatkan oleh gapoktan lainnya dengan menitipkan produknya agar mampu menembus negara – negara tersebut.

Impian gapoktan untuk dapat mengekspor secara langsung dipastikan memerlukan dukungan sumber permodalan yang kuat, perwakilan dari Bank BRI yang hadir menyatakan komitmennya untuk membantu permodalan bagi gapoktan yang ingin mengembangkan skala usahanya disamping itu, perwakilan dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) juga memberikan dukungan secara tidak langsung bagi gapoktan khususnya dalam bentuk jaminan dari sisi sistem pengaturan dan pengawasan terhadap kegiatan di sektor jasa keuangan.

Peningkatan kapasitas petani menghasilkan produk berorientasi ekspor ditambah dengan dukungan dari pemerintah serta lembaga pembiayaan merupakan modal penting yang akan semakin memperkuat keyakinan petani kita mampu bersaing saat MEA 2015 bergulir. -Subdit Pemasaran Bilateral

berita lain