berita
PAPUA NUGINI, ALTERNATIF PASAR EKSPOR PRODUK PERTANIAN INDONESIA
Melihat sejumlah peluang dan potensi yang ada, Ir. Dedi Junaedi, M.Sc selaku Direktur Pemasaran Internasional, Ditjen PPHP Kementerian Pertanian RI berinisiatif menyambangi Kedutaan Besar PNG di Jakarta pada Kamis, 12 Maret 2015

Jumat, 20 Mar 2015


Dari sisi letak geofrafis, Papua Nugini merupakan tetangga dekat Indonesia. Namun demikian hubungan perdagangan kedua negara ini belumlah maksimal. Hal tersebut dapat dilihat dari sisi nilai perdagangan kedua negara yang terbilang kecil yakni hanya sebesar 206,6 juta USD pada tahun 2014. Akan tetapi PNG sebenarnya memiliki potensi pasar yang cukup profitable bagi produk Indonesia. Hal tersebut didukung dengan kedekatan geografis yang membuat PNG dijadikan sebagai strategic linkage bagi Indonesia dengan negara – negara lainnya di kawasan Asia Pasifik termasuk dalam hal perdagangan produk Indonesia khususnya produk pertanian.

Melihat sejumlah peluang dan potensi yang ada, Ir. Dedi Junaedi, M.Sc selaku Direktur Pemasaran Internasional, Ditjen PPHP Kementerian Pertanian RI berinisiatif menyambangi Kedutaan Besar PNG di Jakarta pada Kamis, 12 Maret 2015. Dedi Junaedi mengatakan bahwa pertemuan Courtessy Call ini dimaksudkan sebagai langkah awal guna menjajaki kemungkinan ekspansi ekspor produk pertanian khususnya beras premium dan beras jenis tertentu ke PNG, ditambah lagi berdasarkan data (trademap.org) selama periode 2011 - 2013 impor beras di PNG menunjukan peningkatan rata – rata sebesar 95, 6 % / tahun.

Dalam kesempatan tersebut, Duta Besar PNG untuk Indonesia, Peter H. Ilau menyambut baik maksud dan kedatangan Direktur Pemasaran Internasional. Menurutnya, pasar beras di PNG sangat terbuka bagi Indonesia meskipun saat ini sekitar 82,4 % masih dikuasai oleh Australia sedangkan sisanya diimpor langsung dari Thailand (12,6 %) dan Vietnam (1,7%). Peter H. Ilau menambahkan bahwa pihaknya akan memfasilitasi Pemerintah Indonesia misalnya dalam hal promosi dan bersedia memberikan informasi yang diperlukan seputar pasar beras di PNG.

Terkait dengan nilai perdagangan produk pertanian Indonesia dan PNG, tercatat pada 2013 hanya sebesar 36,7 juta USD. Dedi menilai hal tersebut disebabkan karena kedua negara memiliki kesamaan produk pertanian unggulan ekspor seperti kopi, kakao, kelapa, CPO, teh, karet dan beberapa produk pertanian lainnya. “Ke depan, kerjasama antara Indonesia dengan PNG tidak hanya diarahkan pada peningkatan sektor perdagangan tapi juga dapat diarahkan pada penguatan sektor kerjasama teknis bidang pertanian maupun kemungkinan investasi di sektor pertanian” imbuhnya.

Sebagai informasi, hubungan bilateral antara Indonesia dengan PNG selama ini telah terjalin dengan baik, bahkan sejak Oktober 2003 telah terbentuk MoU Bidang Pertanian yang mencakup kerjasama teknis di bidang perkarantinaan dan peternakan. Disamping itu sebagai bentuk komitmen Indonesia memperkuat kerjasama di sektor pertanian,  pada tahun 2010 Kementerian Pertanian RI telah memberikan bantuan kepada PNG sebanyak 15 unit hand tractor dan 15 unit power tresher. Indonesia juga telah beberapa kali melaksanakan program magang sabagai upaya meningkatkan capacity building bagi petani maupun petugas lapang yang banyak diikuti oleh peserta dari PNG.  /Subdit Permasaran Bilateral

Dari sisi letak geofrafis, Papua Nugini merupakan tetangga dekat Indonesia. Namun demikian hubungan perdagangan kedua negara ini belumlah maksimal. Hal tersebut dapat dilihat dari sisi nilai perdagangan kedua negara yang terbilang kecil yakni hanya sebesar 206,6 juta USD pada tahun 2014. Akan tetapi PNG sebenarnya memiliki potensi pasar yang cukup profitable bagi produk Indonesia. Hal tersebut didukung dengan kedekatan geografis yang membuat PNG dijadikan sebagai strategic linkage bagi Indonesia dengan negara – negara lainnya di kawasan Asia Pasifik termasuk dalam hal perdagangan produk Indonesia khususnya produk pertanian.

Melihat sejumlah peluang dan potensi yang ada, Ir. Dedi Junaedi, M.Sc selaku Direktur Pemasaran Internasional, Ditjen PPHP Kementerian Pertanian RI berinisiatif menyambangi Kedutaan Besar PNG di Jakarta pada Kamis, 12 Maret 2015. Dedi Junaedi mengatakan bahwa pertemuan Courtessy Call ini dimaksudkan sebagai langkah awal guna menjajaki kemungkinan ekspansi ekspor produk pertanian khususnya beras premium dan beras jenis tertentu ke PNG, ditambah lagi berdasarkan data (trademap.org) selama periode 2011 - 2013 impor beras di PNG menunjukan peningkatan rata – rata sebesar 95, 6 % / tahun.

Dalam kesempatan tersebut, Duta Besar PNG untuk Indonesia, Peter H. Ilau menyambut baik maksud dan kedatangan Direktur Pemasaran Internasional. Menurutnya, pasar beras di PNG sangat terbuka bagi Indonesia meskipun saat ini sekitar 82,4 % masih dikuasai oleh Australia sedangkan sisanya diimpor langsung dari Thailand (12,6 %) dan Vietnam (1,7%). Peter H. Ilau menambahkan bahwa pihaknya akan memfasilitasi Pemerintah Indonesia misalnya dalam hal promosi dan bersedia memberikan informasi yang diperlukan seputar pasar beras di PNG.

Terkait dengan nilai perdagangan produk pertanian Indonesia dan PNG, tercatat pada 2013 hanya sebesar 36,7 juta USD. Dedi menilai hal tersebut disebabkan karena kedua negara memiliki kesamaan produk pertanian unggulan ekspor seperti kopi, kakao, kelapa, CPO, teh, karet dan beberapa produk pertanian lainnya. “Ke depan, kerjasama antara Indonesia dengan PNG tidak hanya diarahkan pada peningkatan sektor perdagangan tapi juga dapat diarahkan pada penguatan sektor kerjasama teknis bidang pertanian maupun kemungkinan investasi di sektor pertanian” imbuhnya.

Sebagai informasi, hubungan bilateral antara Indonesia dengan PNG selama ini telah terjalin dengan baik, bahkan sejak Oktober 2003 telah terbentuk MoU Bidang Pertanian yang mencakup kerjasama teknis di bidang perkarantinaan dan peternakan. Disamping itu sebagai bentuk komitmen Indonesia memperkuat kerjasama di sektor pertanian,  pada tahun 2010 Kementerian Pertanian RI telah memberikan bantuan kepada PNG sebanyak 15 unit hand tractor dan 15 unit power tresher. Indonesia juga telah beberapa kali melaksanakan program magang sabagai upaya meningkatkan capacity building bagi petani maupun petugas lapang yang banyak diikuti oleh peserta dari PNG.  /Subdit Permasaran Bilateral

berita lain