berita
Cegah Produk Segar Berbahaya, Kemtan Turunkan Petugas Pengawas
Jakarta, PPHP-News; Hampir sudah dapat dipastikan bahwa setiap bulan Ramadhan dan menjelang Hari Raya Idul Fitri (Lebaran), permintaan terhadap produk pertanian segar meningkat tajam.

Jumat, 26 Jun 2015


Hampir sudah dapat dipastikan bahwa setiap bulan Ramadhan dan menjelang Hari Raya Idul Fitri (Lebaran), permintaan terhadap produk pertanian segar meningkat tajam.  Sejalan dengan hal demikian akan mendorong produsen dan pedagang untuk memproduksi lebih banyak, dan secara tidak langsung akan memdorong oknum produsen dan pedagang dengan cara-cara berproduksi yang tidak benar, atau praktik tidak jujur dalam jaminan keamanan pangan.   

Kementerian Pertanian (Kementan) pada minggu pertama bulan ramadhan (25/6) telah menurunkan petugas pengawas untuk melakukan pengawasan dan penyelidikan produk segar pertanian yang mengandung bahan yang  berbahaya yang masih banyak beredar di pasar tradisional, maupun pasar modren diwilayah DKI , Bogor, Tanggerang, Bekasi dan Depok.

Tujuan pelaksanaan kegiatan pengawasan ini adalah memperoleh gambaran keamana pangan hasil pertanian strategis yang beredar dipasaran, dipastikan sesuai dengan standar keamanan pangan dan tata pelabelan jaminan mutu dan keamanan pangan.

Dalam pelaksanaan pengawasan, petugas dibekali dengan alat penduga kandungan bahan berbahaya cara cepat (rapid test).  Alat tersebut hanya dapat mendeteksi ada atau tidaknya cemaran pestisida (organophosphate/carbamate/acetylcholinesterase inhibitor) di produk segar pertanian tersebut. Berapa jumlah kandungan cemaran, sangat diperlukan uji laboratorium lanjutan, apakah kandungan cemaran tidak melampoi ambang batas toleransi yang sesuai SNI 7313:2008 Batas Maksimum Residu Pestisida pada Hasil Pertanian (BMR)

Dari hasil pantauan sementara terhadap produk pertanian segar sebagian besar masih terdapat cemaran,dan sambil menunggu hasil uji laboratorium lanjutan untuk dikatakan layak untuk dikonsumsi sesuai dengan ambang batas toleransi SNI BMR. Dari pelabelan produk pertanian di beberapa pasar modern masih terdapat penggunaan pelabelan yang tidak bertanggung jawab.  (JH).

Hampir sudah dapat dipastikan bahwa setiap bulan Ramadhan dan menjelang Hari Raya Idul Fitri (Lebaran), permintaan terhadap produk pertanian segar meningkat tajam.  Sejalan dengan hal demikian akan mendorong produsen dan pedagang untuk memproduksi lebih banyak, dan secara tidak langsung akan memdorong oknum produsen dan pedagang dengan cara-cara berproduksi yang tidak benar, atau praktik tidak jujur dalam jaminan keamanan pangan.   

Kementerian Pertanian (Kementan) pada minggu pertama bulan ramadhan (25/6) telah menurunkan petugas pengawas untuk melakukan pengawasan dan penyelidikan produk segar pertanian yang mengandung bahan yang  berbahaya yang masih banyak beredar di pasar tradisional, maupun pasar modren diwilayah DKI , Bogor, Tanggerang, Bekasi dan Depok.

Tujuan pelaksanaan kegiatan pengawasan ini adalah memperoleh gambaran keamana pangan hasil pertanian strategis yang beredar dipasaran, dipastikan sesuai dengan standar keamanan pangan dan tata pelabelan jaminan mutu dan keamanan pangan.

Dalam pelaksanaan pengawasan, petugas dibekali dengan alat penduga kandungan bahan berbahaya cara cepat (rapid test).  Alat tersebut hanya dapat mendeteksi ada atau tidaknya cemaran pestisida (organophosphate/carbamate/acetylcholinesterase inhibitor) di produk segar pertanian tersebut. Berapa jumlah kandungan cemaran, sangat diperlukan uji laboratorium lanjutan, apakah kandungan cemaran tidak melampoi ambang batas toleransi yang sesuai SNI 7313:2008 Batas Maksimum Residu Pestisida pada Hasil Pertanian (BMR)

Dari hasil pantauan sementara terhadap produk pertanian segar sebagian besar masih terdapat cemaran,dan sambil menunggu hasil uji laboratorium lanjutan untuk dikatakan layak untuk dikonsumsi sesuai dengan ambang batas toleransi SNI BMR. Dari pelabelan produk pertanian di beberapa pasar modern masih terdapat penggunaan pelabelan yang tidak bertanggung jawab.  (JH).

berita lain