berita
Pengolahan dan Potensi Gula Aren Payakumbuh, Sumatera Barat
Tanaman aren yang memiliki nilai ekonomis yang menguntungkan dan didukung oleh kondisi topografis yang cocok merupakan peluang yang sangat prospektif dalam mencapai tujuan pengembangan agribisnis aren. Gula aren diperoleh dari proses penyadapan nira aren yang kemudian dikurangi kadar airnya hingga menjadi padat......

Jumat, 31 Jul 2015


Tanaman aren yang memiliki nilai ekonomis yang menguntungkan dan didukung oleh kondisi topografis yang cocok merupakan peluang yang sangat prospektif dalam mencapai tujuan pengembangan agribisnis aren. Gula aren diperoleh dari proses penyadapan nira aren yang kemudian dikurangi kadar airnya hingga menjadi padat. Produk gula aren ini adalah berupa gula cetak dan gula semut. Gula cetak diperoleh dengan memasak nira aren hingga menjadi kental seperti gulali kemudian mencetaknya dalam cetakan berbentuk set. Tanaman Aren (Arenga pinnata (Wurmb.Merr.) merupakan tanaman yang serbaguna. Luas lahan kebun aren di Indonesia pada tahun 2012 sekitar 70.000 hektar. Produsen gula aren masih mengolahnya secara tradisional, yang dicetak dalam bentuk separuh batok kelapa, kotak, silinder, atau lempeng. Gula aren merupakan gula murni yang tidak menggunakan bahan kimia pengawet, pewarna, atau aroma dalam pengolahannya. Masyarakat di Kota Payakumbuh dan Lima­puluh Kota di Sumatera Barat pada umumnya, mengenalnya dengan sebutan gula aren, karena air nira yang menjadi bahan baku untuk membuat gula tersebut diambil dari tangkai buah pohon aren.  Di daerah Pasar Bawah, Kota Bukit Tinggi, agen penjual gula merah artisanal Sumatra Barat yang dengan sangat bangga menjabarkan karakter gula aren terbaik dari Situjuah, Payakumbuh karena teksturnya yang lembut. Bagi petani yang memiliki banyak pohon aren, akan berang­kat lebih awal untuk menyadap air nira. Jika terlambat menyadap air nira akan berubah menjadi asam cuka dan tuak.

Petani aren masih saja melakukan pembudidayaan aren dengan sangat tradisional. Petani aren tidak melakukan penyeleksian benih dan pembibitan serta pengembangan luas tanam tanaman aren. Petani aren hanya merawat tanaman aren yang tumbuh dengan sendirinya.Pada pagi hari biasa jauh sebelum matahari bersinar dan sore hari sebelum matahari terbenam. Pohon aren yang mulai bisa di sadap pada usia 5 tahun dan puncak produksi antara 10 - 20 tahun dan subur, bisa menghasilkan 15-20 liter nira aren tiap hari. Adapun faktor-faktor yang terkait dengan produk gula aren: kualitas produk, tingginya biaya transportasi, dan kompleksitas prosedur ekspor diduga turut berpengaruh terhadap perolehan manfaat perdagangan ekspor produk kelapa Indonesia yang belum maksimal. Produk gula aren salah satunya di wilayah Kota Payakumbuh, Provinsi Sumatera Barat, diharapkan potensi pengolahan gula aren ini dapat secara optimal dimanfaatkan dalam peningkatan perekonomian di tingkat petani dan masyarakat.(Sumber: Litbangbun data, data diolah hero13)

 

Tanaman aren yang memiliki nilai ekonomis yang menguntungkan dan didukung oleh kondisi topografis yang cocok merupakan peluang yang sangat prospektif dalam mencapai tujuan pengembangan agribisnis aren. Gula aren diperoleh dari proses penyadapan nira aren yang kemudian dikurangi kadar airnya hingga menjadi padat. Produk gula aren ini adalah berupa gula cetak dan gula semut. Gula cetak diperoleh dengan memasak nira aren hingga menjadi kental seperti gulali kemudian mencetaknya dalam cetakan berbentuk set. Tanaman Aren (Arenga pinnata (Wurmb.Merr.) merupakan tanaman yang serbaguna. Luas lahan kebun aren di Indonesia pada tahun 2012 sekitar 70.000 hektar. Produsen gula aren masih mengolahnya secara tradisional, yang dicetak dalam bentuk separuh batok kelapa, kotak, silinder, atau lempeng. Gula aren merupakan gula murni yang tidak menggunakan bahan kimia pengawet, pewarna, atau aroma dalam pengolahannya. Masyarakat di Kota Payakumbuh dan Lima­puluh Kota di Sumatera Barat pada umumnya, mengenalnya dengan sebutan gula aren, karena air nira yang menjadi bahan baku untuk membuat gula tersebut diambil dari tangkai buah pohon aren.  Di daerah Pasar Bawah, Kota Bukit Tinggi, agen penjual gula merah artisanal Sumatra Barat yang dengan sangat bangga menjabarkan karakter gula aren terbaik dari Situjuah, Payakumbuh karena teksturnya yang lembut. Bagi petani yang memiliki banyak pohon aren, akan berang­kat lebih awal untuk menyadap air nira. Jika terlambat menyadap air nira akan berubah menjadi asam cuka dan tuak.

Petani aren masih saja melakukan pembudidayaan aren dengan sangat tradisional. Petani aren tidak melakukan penyeleksian benih dan pembibitan serta pengembangan luas tanam tanaman aren. Petani aren hanya merawat tanaman aren yang tumbuh dengan sendirinya.Pada pagi hari biasa jauh sebelum matahari bersinar dan sore hari sebelum matahari terbenam. Pohon aren yang mulai bisa di sadap pada usia 5 tahun dan puncak produksi antara 10 - 20 tahun dan subur, bisa menghasilkan 15-20 liter nira aren tiap hari. Adapun faktor-faktor yang terkait dengan produk gula aren: kualitas produk, tingginya biaya transportasi, dan kompleksitas prosedur ekspor diduga turut berpengaruh terhadap perolehan manfaat perdagangan ekspor produk kelapa Indonesia yang belum maksimal. Produk gula aren salah satunya di wilayah Kota Payakumbuh, Provinsi Sumatera Barat, diharapkan potensi pengolahan gula aren ini dapat secara optimal dimanfaatkan dalam peningkatan perekonomian di tingkat petani dan masyarakat.(Sumber: Litbangbun data, data diolah hero13)

 

berita lain