berita
Pengolahan Keripik Salak Pondoh asal Wonosobo dalam Potensi Pemasaran
Salak pondoh menjadi primadona dan andalan petani di desa-desa paling barat di Kabupaten Wonosobo, Provinsi Jawa Tengah Petani di semua desa di Kecamatan Sukoharjo mengembangkan tanaman salak pondoh.....

Minggu, 02 Ags 2015


Salak pondoh menjadi primadona dan andalan petani di desa-desa paling barat di Kabupaten Wonosobo, Provinsi Jawa Tengah Petani di semua desa di Kecamatan Sukoharjo mengembangkan tanaman salak pondoh. Banyak lahan pertanian sawah, tegalan, dan kebun berubah menjadi areal tanaman salak pondoh. Berdasarkan data tercatat 1.000 hektare lebih lahan milik petani di Kecamatan Sukoharjo dimanfaatkan untuk budi daya salak pondoh. Kabupaten Wonosobo memang kaya akan potensi kuliner. Trend industri boga yang berkembang di berbagai daerah, membuat warga kota sejuk ini, untuk menggali potensi di sektor bisnis dalam wisata kuliner.

Potensi buah Salak berbeda dari segi tingkat kadar airnya. Singkong dan kentang memiliki tingkat kadar air yang relatif lebih kecil dibandingkan buah salak. Sehingga diperlukan perlakuan khusus agar salak pondoh yang digoreng menjadi kering sempurna seperti keripik-keripik yang lain, tidak sekedar menggoreng cara konvensional. Untuk prosesnya dalam sehari mereka bisa melakukan 3 - 6 kali proses pembuatan kripik salak pondoh. Setiap proses akan menghasilkan kripik salak pondoh sebanyak 5 kg. Sedangkan untuk 1 kg kripik diperlukan salak segar sebanyak 14 kg. Untuk Keripik salak dijual dengan harga kompetitif, berkisar antara Rp. 100.000,- per Kg (Rp. 10.000,- per ons). Kabupaten Wonosobo merupakan penghasil buah salak terbesar di Propinsi Jawa Tengah. Selama ini buah salak tersebut dijual dalam bentuk segar, sehingga nilai tambah yang diperoleh petani relatif kecil. Untuk memproduksi menjadi keripik salak maka daya tahannya menjadi lebih lama, serta menjadi produk alternatif yang diharapkan dapat meningkatkan nilai jual salak ditingkat petani.(Sumber: data Litbang, data diolah hero13)

Salak pondoh menjadi primadona dan andalan petani di desa-desa paling barat di Kabupaten Wonosobo, Provinsi Jawa Tengah Petani di semua desa di Kecamatan Sukoharjo mengembangkan tanaman salak pondoh. Banyak lahan pertanian sawah, tegalan, dan kebun berubah menjadi areal tanaman salak pondoh. Berdasarkan data tercatat 1.000 hektare lebih lahan milik petani di Kecamatan Sukoharjo dimanfaatkan untuk budi daya salak pondoh. Kabupaten Wonosobo memang kaya akan potensi kuliner. Trend industri boga yang berkembang di berbagai daerah, membuat warga kota sejuk ini, untuk menggali potensi di sektor bisnis dalam wisata kuliner.

Potensi buah Salak berbeda dari segi tingkat kadar airnya. Singkong dan kentang memiliki tingkat kadar air yang relatif lebih kecil dibandingkan buah salak. Sehingga diperlukan perlakuan khusus agar salak pondoh yang digoreng menjadi kering sempurna seperti keripik-keripik yang lain, tidak sekedar menggoreng cara konvensional. Untuk prosesnya dalam sehari mereka bisa melakukan 3 - 6 kali proses pembuatan kripik salak pondoh. Setiap proses akan menghasilkan kripik salak pondoh sebanyak 5 kg. Sedangkan untuk 1 kg kripik diperlukan salak segar sebanyak 14 kg. Untuk Keripik salak dijual dengan harga kompetitif, berkisar antara Rp. 100.000,- per Kg (Rp. 10.000,- per ons). Kabupaten Wonosobo merupakan penghasil buah salak terbesar di Propinsi Jawa Tengah. Selama ini buah salak tersebut dijual dalam bentuk segar, sehingga nilai tambah yang diperoleh petani relatif kecil. Untuk memproduksi menjadi keripik salak maka daya tahannya menjadi lebih lama, serta menjadi produk alternatif yang diharapkan dapat meningkatkan nilai jual salak ditingkat petani.(Sumber: data Litbang, data diolah hero13)

berita lain