berita
Mengenal Kerbau Sumbawa
Mataram, (31/8) PPHP News : Kerbau sumbawa merupakan salah satu rumpun kerbau lokal Indonesia yang mempunyai sebaran asli geografis di Pulau Sumbawa, Provinsi NTB dan telah dibudidayakan secara turun-temurun, mempunyai keseragaman bentuk fisik dan komposisi genetik serta kemampuan adaptasi dengan baik pada lingkungan yang ekstrim. Kerbau sumbawa mempunyai ciri khas yang berbeda dengan rumpun kerbau lumpur atau kerbau lokal lainnya dan merupakan kekayaan sumber daya genetik ternak lokal Indonesia yang perlu dilindungi dan dilestarikan.

Senin, 31 Ags 2015


Menurut Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Kabupaten Sumbawa, Syafruddin Nur yang dihubungi 6 Agustus lalu mengatakan, secara nasional provinsi NTB merupakan daerah ke enam sebagai daerah dengan populasi ternak kerbau terbanyak. Dari 80 persen populasi Kerbau di Provinsi NTB berada di wilayah Kabupaten Sumbawa. Ia menambahkan, seekor kerbau dengan berat 600 kg saat ini bisa berharga mencapai Rp. 12 juta, sementara untuk sapi sangat sulit mencapai berat 600 kg, kalau pun tercapai berat yang maksimal, harga seekor Sapi hanya berkisar Rp. 6 juta hingga Rp. 8 juta perekor.

Kerbau Sumbawa termasuk dalam tipe kerbau lumpur (Bubalus Bubalis). Bagi masyarakat Sumbawa kerbau Sumbawa merupakan ternak penghasil daging sebagai sumber protein hewani, juga menghasilkan susu untuk kebutuhan masyarakat Sumbawa. Bagi masyarakat Sumbawa kerbau merupakan lambang prestise (socialprestige) dan bukti tingkat kesejahteraan. Kepemilikan ternak kerbau rata-rata terendah 8 – 12 ekor per peternak dan bahkan sampai lebih dari 400 ekor per peternak.

Populasi kerbau Sumbawa di Provinsi Nusa Tenggara Barat pada tahun 2014 tercatat mencapai 114.261 ekor, dan penyebarannya 35,11% berada di Kabupaten Sumbawa yaitu 50.643 ekor. Populasi kerbau Sumbawa di kabupaten Sumbawa cenderung menurun, misalnya pada tahun 2007 mencapai 64.346 ekor turun menjadi 50.643 ekor pad tahun 2013. Kondisi ini disebabkan oleh pola pemeliharaan yang bersifat tradisional dan perkembangbiakan secara genetik cenderung lama. 

Masyarakat di Pulau Sumbawa pada umumnya memelihara kerbau masih bersifat tradisional yang pemeliharaan masih dilepas di padang pengembalaan atau yang disebut Lar/So. Memelihara ternak kerbau masih dijadikan pekerjaan sampingan karena rata-rata pekerjaan pokok adalah bertani, sehingga ternak kerbau di pelihara hanya dijadikan sebagai tabungan hidup untuk membiaya kesehatan, pendidikan dan naik haji. Sementara hasil olahan produk yang berasal dari ternak kerbau seperti daging dan susu masih relatif sedikit di lakoni oleh masyarakat. Kerbau di Pulau Sumbawa selain digunakan sebagai tenaga kerja juga dimanfaatkan untuk wisata yaitu Karapan Kerbau yang mana setiap tahun diadakan karapan kerbau dan sudah menjadi ikon pariwisata Pulau Sumbawa. (Rtz)

Menurut Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Kabupaten Sumbawa, Syafruddin Nur yang dihubungi 6 Agustus lalu mengatakan, secara nasional provinsi NTB merupakan daerah ke enam sebagai daerah dengan populasi ternak kerbau terbanyak. Dari 80 persen populasi Kerbau di Provinsi NTB berada di wilayah Kabupaten Sumbawa. Ia menambahkan, seekor kerbau dengan berat 600 kg saat ini bisa berharga mencapai Rp. 12 juta, sementara untuk sapi sangat sulit mencapai berat 600 kg, kalau pun tercapai berat yang maksimal, harga seekor Sapi hanya berkisar Rp. 6 juta hingga Rp. 8 juta perekor.

Kerbau Sumbawa termasuk dalam tipe kerbau lumpur (Bubalus Bubalis). Bagi masyarakat Sumbawa kerbau Sumbawa merupakan ternak penghasil daging sebagai sumber protein hewani, juga menghasilkan susu untuk kebutuhan masyarakat Sumbawa. Bagi masyarakat Sumbawa kerbau merupakan lambang prestise (socialprestige) dan bukti tingkat kesejahteraan. Kepemilikan ternak kerbau rata-rata terendah 8 – 12 ekor per peternak dan bahkan sampai lebih dari 400 ekor per peternak.

Populasi kerbau Sumbawa di Provinsi Nusa Tenggara Barat pada tahun 2014 tercatat mencapai 114.261 ekor, dan penyebarannya 35,11% berada di Kabupaten Sumbawa yaitu 50.643 ekor. Populasi kerbau Sumbawa di kabupaten Sumbawa cenderung menurun, misalnya pada tahun 2007 mencapai 64.346 ekor turun menjadi 50.643 ekor pad tahun 2013. Kondisi ini disebabkan oleh pola pemeliharaan yang bersifat tradisional dan perkembangbiakan secara genetik cenderung lama. 

Masyarakat di Pulau Sumbawa pada umumnya memelihara kerbau masih bersifat tradisional yang pemeliharaan masih dilepas di padang pengembalaan atau yang disebut Lar/So. Memelihara ternak kerbau masih dijadikan pekerjaan sampingan karena rata-rata pekerjaan pokok adalah bertani, sehingga ternak kerbau di pelihara hanya dijadikan sebagai tabungan hidup untuk membiaya kesehatan, pendidikan dan naik haji. Sementara hasil olahan produk yang berasal dari ternak kerbau seperti daging dan susu masih relatif sedikit di lakoni oleh masyarakat. Kerbau di Pulau Sumbawa selain digunakan sebagai tenaga kerja juga dimanfaatkan untuk wisata yaitu Karapan Kerbau yang mana setiap tahun diadakan karapan kerbau dan sudah menjadi ikon pariwisata Pulau Sumbawa. (Rtz)

berita lain