berita
Pengembangan Ternak Kerbau untuk Subsitusi Daging Sapi
Daging kerbau warnanya lebih merah dari daging sapi dan memiliki serabut otot kasar, tampak lebih besar daripada serat pada daging sapi dan lemaknya berwarna putih terkadang berwarna kuning, rasanya hampir sama dengan daging sapi pada umumnya agak liat, karena umumnya disembelih pada umur tua. Daging kerbau juga tidak memiliki aroma yang spesifik.

Senin, 31 Ags 2015


Sama seperti daging-daging lainnya, daging kerbau memiliki kandungan gizi yang cukup tinggi, bahkan lebih tinggi daripada kandungan gizi pada daging sapi. Kandungan terbanyak dalam daging kerbau yaitu protein dengan presentase 20-30 %, namun kandungan lemaknya lebih rendah dari daging sapi yaitu hanya sebesar 0,5 %.

Ternak kerbau merupakan salah satu asset nasional bidang peternakan yang ada di wilayah perdesaan di Indonesia. Peluang pengembangannya sangat luas bila dilihat dari kondisi fisik ternak kerbau serta kegunaannya. Ternak kerbau berperan sebagai fungsi sosial budaya yang sangat menonjol, seperti di Sumatera Barat diambil sebagai kerbau perah dan di Tana Toraja ternak kerbau digunakan dalam upacara ritual adat.  Di Sumbawa Provisi NTB, biasa digunakan oleh masyarakat setempat untuk karapan (adu lomba balapan) kerbau.

Tradisi pemanfaatan ternak kerbau yang mengakar di masyarakat itu ternyata bisa menjadi pemicu dalam usaha pengembangan ternak kerbau untuk dapat menghasilkan bibit yang baik dan sekaligus sebagai upaya pelestarian ternak kerbau. Peluang dan pengembangan ternak kerbau akan semakin bertambah dengan besarnya potensi sumberdaya alam yang tersedia di pedesaan serta dapat diarahkan untuk pengembangbiakan ternak kerbau. Peluang itu akan lebih baik apabila ditunjang dengan teknologi pembibitan tepat guna yang dapat diimplementasikan kepada petani ternak di pedesaan.

Kerbau memiliki kelemahan yang berkaitan erat dengan peningkatan populasi, yaitu kinerja reproduksinya yang rendah. Dalam struktur budaya lokal di beberapa daerah, ada keengganan dari sebagian peternak untuk memelihara jantan karena pengendaliannya yang sangat sulit. Disamping itu, sebagian peternak percaya bahwa betina dewasa akan bunting meskipun tidak ada pejantan. Sebagian besar kerbau jantan dijual menjelang dewasa. Disamping itu, perkawinan yang terjadipun dilakukan oleh jantan muda sebelum ternak jantan tersebut laku dijual. Akibatnya rasio jantan betina menjadi sangat rendah, sehingga mengurangi kesempatan terjadinya perkawinan atau kebutingan.

Fenomena lain yang terlihat dalam budidaya kerbau di peternak adalah pola kandang individu, disertai dengan rasio jantan betina yang rendah, akan mengurangi kesempatan untuk terjadinya perkawinan. Beberapa hasil penelitian menunjukkan perkawinan kerbau terjadi menjelang pagi, dimana kerbau jantan dan betina masih terpisah dalam kandang masing-masing, akibat dari pola menejemen yang tidak tepat tersebut adalah rendahnya kebuntingan. Dengan demikian Calving interval menjadi panjang yang berujung pada kesimpulan kinerja reproduksi kerbau yang rendah.

Mempertimbangkan berbagai faktor keunggulan dan kelemahan dalam pola budidaya yang masih memungkinkan adanya perbaikan, masalah mendasar untuk pengembangan ternak kerbau saat ini adalah pengadaan bibit (terutama bibit jantan), yang secara kuantitas dan kualitas masih rendah. Pemerintah mulai mengarahkan perhatian pada perbibitan kerbau. Pola perbibitan akan efektif berjalan adalah yang melibatkan kepentingan masyarakat baik sisi ekonomi sosial maupun jangkauan teknisnya. Pola perbibitan kerbau yang tepat sesuai dengan sumberdaya lokal dan kebutuhan masyarakat, sehingga dalam implementasinya lebih cepat diterima peternak secara umum. Sebagai dampaknya kinerja reproduksi, produksi dan produktivitas kerbau dapat diperbaiki. Sehingga dalam jangka panjang mampu memberikan kontribusi besar bagi penyediaan daging sebagai subsitusi daging sapi nasional.

Ditjen PKH Kementan RI, telah memetakan potensi perkembangan populasi kerbau nasional,  pemuliabiakkan kerbau agak lamban dibanding dengan ternak sapi. Secara nasional perbandingannya sekitar 20% kerbau dan 80 % sapi dan ratio ini masih berlangsung sampai saat ini. Pembibitan kerbau selama ini dilakukan dalam skala usaha yang relatif kecil, menyebar, serta dilakukan di kawasan yang tidak tersedia pakan, atau pakan (rumput) harus dibeli dengan harga mahal.

Masalah pengembangan kerbau disebabkan karena tingkat reproduksi kerbau  yang rendah, masa kebuntingan kerbau yang relatif lebih lama, angka kelahiran kerbau rendah, dewasa kelamin dan selang beranak relatif panjang dan kerbau memiliki persentase karkas lebih rendah 3-5% dari karkas sapi karena ukuran kaki dan kepala yang lebih besar serta kulit yang lebih tebal. Selain itu kerbau dikenal sebagai ternak silent heat yaitu sulit untuk mendeteksi ternak betina yang estrus karena tidak menunjukkan tanda-tanda birahi. Produktifitas kerbau dalam beberapa hal lebih rendah dibandingkan dengan sapi terkait dengan sifat-sifat biologis yang dimilikinya. (Rtz)

Sama seperti daging-daging lainnya, daging kerbau memiliki kandungan gizi yang cukup tinggi, bahkan lebih tinggi daripada kandungan gizi pada daging sapi. Kandungan terbanyak dalam daging kerbau yaitu protein dengan presentase 20-30 %, namun kandungan lemaknya lebih rendah dari daging sapi yaitu hanya sebesar 0,5 %.

Ternak kerbau merupakan salah satu asset nasional bidang peternakan yang ada di wilayah perdesaan di Indonesia. Peluang pengembangannya sangat luas bila dilihat dari kondisi fisik ternak kerbau serta kegunaannya. Ternak kerbau berperan sebagai fungsi sosial budaya yang sangat menonjol, seperti di Sumatera Barat diambil sebagai kerbau perah dan di Tana Toraja ternak kerbau digunakan dalam upacara ritual adat.  Di Sumbawa Provisi NTB, biasa digunakan oleh masyarakat setempat untuk karapan (adu lomba balapan) kerbau.

Tradisi pemanfaatan ternak kerbau yang mengakar di masyarakat itu ternyata bisa menjadi pemicu dalam usaha pengembangan ternak kerbau untuk dapat menghasilkan bibit yang baik dan sekaligus sebagai upaya pelestarian ternak kerbau. Peluang dan pengembangan ternak kerbau akan semakin bertambah dengan besarnya potensi sumberdaya alam yang tersedia di pedesaan serta dapat diarahkan untuk pengembangbiakan ternak kerbau. Peluang itu akan lebih baik apabila ditunjang dengan teknologi pembibitan tepat guna yang dapat diimplementasikan kepada petani ternak di pedesaan.

Kerbau memiliki kelemahan yang berkaitan erat dengan peningkatan populasi, yaitu kinerja reproduksinya yang rendah. Dalam struktur budaya lokal di beberapa daerah, ada keengganan dari sebagian peternak untuk memelihara jantan karena pengendaliannya yang sangat sulit. Disamping itu, sebagian peternak percaya bahwa betina dewasa akan bunting meskipun tidak ada pejantan. Sebagian besar kerbau jantan dijual menjelang dewasa. Disamping itu, perkawinan yang terjadipun dilakukan oleh jantan muda sebelum ternak jantan tersebut laku dijual. Akibatnya rasio jantan betina menjadi sangat rendah, sehingga mengurangi kesempatan terjadinya perkawinan atau kebutingan.

Fenomena lain yang terlihat dalam budidaya kerbau di peternak adalah pola kandang individu, disertai dengan rasio jantan betina yang rendah, akan mengurangi kesempatan untuk terjadinya perkawinan. Beberapa hasil penelitian menunjukkan perkawinan kerbau terjadi menjelang pagi, dimana kerbau jantan dan betina masih terpisah dalam kandang masing-masing, akibat dari pola menejemen yang tidak tepat tersebut adalah rendahnya kebuntingan. Dengan demikian Calving interval menjadi panjang yang berujung pada kesimpulan kinerja reproduksi kerbau yang rendah.

Mempertimbangkan berbagai faktor keunggulan dan kelemahan dalam pola budidaya yang masih memungkinkan adanya perbaikan, masalah mendasar untuk pengembangan ternak kerbau saat ini adalah pengadaan bibit (terutama bibit jantan), yang secara kuantitas dan kualitas masih rendah. Pemerintah mulai mengarahkan perhatian pada perbibitan kerbau. Pola perbibitan akan efektif berjalan adalah yang melibatkan kepentingan masyarakat baik sisi ekonomi sosial maupun jangkauan teknisnya. Pola perbibitan kerbau yang tepat sesuai dengan sumberdaya lokal dan kebutuhan masyarakat, sehingga dalam implementasinya lebih cepat diterima peternak secara umum. Sebagai dampaknya kinerja reproduksi, produksi dan produktivitas kerbau dapat diperbaiki. Sehingga dalam jangka panjang mampu memberikan kontribusi besar bagi penyediaan daging sebagai subsitusi daging sapi nasional.

Ditjen PKH Kementan RI, telah memetakan potensi perkembangan populasi kerbau nasional,  pemuliabiakkan kerbau agak lamban dibanding dengan ternak sapi. Secara nasional perbandingannya sekitar 20% kerbau dan 80 % sapi dan ratio ini masih berlangsung sampai saat ini. Pembibitan kerbau selama ini dilakukan dalam skala usaha yang relatif kecil, menyebar, serta dilakukan di kawasan yang tidak tersedia pakan, atau pakan (rumput) harus dibeli dengan harga mahal.

Masalah pengembangan kerbau disebabkan karena tingkat reproduksi kerbau  yang rendah, masa kebuntingan kerbau yang relatif lebih lama, angka kelahiran kerbau rendah, dewasa kelamin dan selang beranak relatif panjang dan kerbau memiliki persentase karkas lebih rendah 3-5% dari karkas sapi karena ukuran kaki dan kepala yang lebih besar serta kulit yang lebih tebal. Selain itu kerbau dikenal sebagai ternak silent heat yaitu sulit untuk mendeteksi ternak betina yang estrus karena tidak menunjukkan tanda-tanda birahi. Produktifitas kerbau dalam beberapa hal lebih rendah dibandingkan dengan sapi terkait dengan sifat-sifat biologis yang dimilikinya. (Rtz)

berita lain