berita
Pemanfaatan Potensi Pengolahan Gambir di Kabupaten Lima Puluh Kota, Sumatera Barat
Ekspor gambir Indonesia lebih dari 80 persen berasal dari Sumatera Barat, disamping itu gambir juga diusahakan dalam skala yang lebih kecil di provinsi lain seperti Aceh, Sumatera Utara, Riau, Bengkulu, Jambi, Sumatera Selatan, Bangka Belitung, Kalimantan Barat, Maluku dan Papua. Gambir (termasuk tanaman khas daerah tropis dengan manfaat serbaguna. Provinsi Sumatera Barat memiliki areal gambir terluas (73%) dibanding provinsi lainnya di Indonesia.....

Rabu, 02 Sept 2015


Ekspor gambir Indonesia lebih dari 80 persen berasal dari Sumatera Barat, disamping itu gambir juga diusahakan dalam skala yang lebih kecil di provinsi lain seperti Aceh, Sumatera Utara, Riau, Bengkulu, Jambi, Sumatera Selatan, Bangka Belitung, Kalimantan Barat, Maluku dan Papua. Gambir (termasuk tanaman khas daerah tropis dengan manfaat serbaguna. Provinsi Sumatera Barat memiliki areal gambir terluas (73%) dibanding provinsi lainnya di Indonesia, tetapi produktivitasnya menduduki urutan kedua terendah setelah Provinsi Sumatera Selatan peyumbang Gambir secara Nasional berasal dari Limapuluh Kota.Prospek pasar dan potensi pengembangannya cukup baik karena digunakan sebagai bahan baku dalam berbagai industri. Produk gambir Uncaria Gambir (Hunter) Roxb) dikenal masyarakat merupakan getah hasil ekstraksi dari daun dan ranting muda yang telah dikeringkan. Getah tersebut mengandung katecin, tannin katecu, kuersetin, fluoresin dan lilin. Gambir banyak diusahakan dalam skala usahatani perkebunan rakyat di Sumatera Barat dan termasuk dalam sepuluh komoditas ekspor utama.

Pemanfaatan gambir pada umumnya digunakan untuk menyirih. Kegunaan yang lebih penting adalah sebagai bahan penyamak kulit dan pewarna. Adapun harga jual yang hanya Rp17.000/kg di tingkat pedagang pengumpul, tanaman gambir seakan-akan tak memberi harapan apa-apa lagi bagi pemiliknya. Sebab, dalam kalkulasi petani, harga ideal gambir adalah 2,5 gantang beras untuk tiap kilogramnya. Kalau harga beras belakangan di pasaran Rp15.000/gantang (1 gantang beras ekuivalen dengan 2,5 kg), maka harga ideal gambir setidaknya Rp45.000/kg. Gambir juga mengandung katekin (catechin), suatu bahan alami yang bersifat antioksidan. Sementara, India mengimpor 68% gambir dari Indonesia dan menggunakannya sebagai bahan campuran menyirih. Gambir juga digunakan sebagai bahan baku industri tekstil dan batik, yaitu sebagai bahan pewarna yang tahan terhadap cahaya matahari Menurut  data statistik pada 2013, luasan kebun gambir 21.404 hektar yang melibatkan tenaga kerja 8.000 hingga 9.000 keluarga. Lahan itu tersebar di Kabupaten Limapuluh Kota seluas 14.577 hektar, Pesisir Selatan 5.023 hektar, Sijunjung 231 hektar, Padang Pariaman 224 hektar, Agam 446 hektar, Pasaman 641 hektar, Pasaman Barat 157 hektar, Padang 95 hektar, dan Sawahlunto 10 hektar. Produksinya 14.025 ton per tahun dengan sekitar 85 persen diekspor ke India dan Asia Selatan.Salah satu contoh Gapoktan Halaban di Nagari Halaban, Kecamatan Sago Halaban, Kabupaten Lima Puluh Kota, Provinsi Sumatera Barat yang mengembangkan produk gambir. Adapun beberapa permasalahan menyangkut produksi gambir khususnya di daerah Kabupaten Limapuluh Kota, Provinsi Sumatra Barat. Permasalahan tersebut kaitannya dengan tata niaga, kualitas, dan hiegienis dari produk gambir yang dihasilkan. Dalam hal ini perlu dibentuk sistim kelembagaan pengusahaan gambir yang kuat mulai dari petani sampai kepada konsumennya, sehingga petani gambir yang merupakan produsen tingkat pertama dalam pengusahaan gambir dapat ikut merasakan pembagian keuntungan secara adil dari gambir yang dihasilkan. (Sumber: Disbun Sumbar, data media, data diolah Hero13)

Ekspor gambir Indonesia lebih dari 80 persen berasal dari Sumatera Barat, disamping itu gambir juga diusahakan dalam skala yang lebih kecil di provinsi lain seperti Aceh, Sumatera Utara, Riau, Bengkulu, Jambi, Sumatera Selatan, Bangka Belitung, Kalimantan Barat, Maluku dan Papua. Gambir (termasuk tanaman khas daerah tropis dengan manfaat serbaguna. Provinsi Sumatera Barat memiliki areal gambir terluas (73%) dibanding provinsi lainnya di Indonesia, tetapi produktivitasnya menduduki urutan kedua terendah setelah Provinsi Sumatera Selatan peyumbang Gambir secara Nasional berasal dari Limapuluh Kota.Prospek pasar dan potensi pengembangannya cukup baik karena digunakan sebagai bahan baku dalam berbagai industri. Produk gambir Uncaria Gambir (Hunter) Roxb) dikenal masyarakat merupakan getah hasil ekstraksi dari daun dan ranting muda yang telah dikeringkan. Getah tersebut mengandung katecin, tannin katecu, kuersetin, fluoresin dan lilin. Gambir banyak diusahakan dalam skala usahatani perkebunan rakyat di Sumatera Barat dan termasuk dalam sepuluh komoditas ekspor utama.

Pemanfaatan gambir pada umumnya digunakan untuk menyirih. Kegunaan yang lebih penting adalah sebagai bahan penyamak kulit dan pewarna. Adapun harga jual yang hanya Rp17.000/kg di tingkat pedagang pengumpul, tanaman gambir seakan-akan tak memberi harapan apa-apa lagi bagi pemiliknya. Sebab, dalam kalkulasi petani, harga ideal gambir adalah 2,5 gantang beras untuk tiap kilogramnya. Kalau harga beras belakangan di pasaran Rp15.000/gantang (1 gantang beras ekuivalen dengan 2,5 kg), maka harga ideal gambir setidaknya Rp45.000/kg. Gambir juga mengandung katekin (catechin), suatu bahan alami yang bersifat antioksidan. Sementara, India mengimpor 68% gambir dari Indonesia dan menggunakannya sebagai bahan campuran menyirih. Gambir juga digunakan sebagai bahan baku industri tekstil dan batik, yaitu sebagai bahan pewarna yang tahan terhadap cahaya matahari Menurut  data statistik pada 2013, luasan kebun gambir 21.404 hektar yang melibatkan tenaga kerja 8.000 hingga 9.000 keluarga. Lahan itu tersebar di Kabupaten Limapuluh Kota seluas 14.577 hektar, Pesisir Selatan 5.023 hektar, Sijunjung 231 hektar, Padang Pariaman 224 hektar, Agam 446 hektar, Pasaman 641 hektar, Pasaman Barat 157 hektar, Padang 95 hektar, dan Sawahlunto 10 hektar. Produksinya 14.025 ton per tahun dengan sekitar 85 persen diekspor ke India dan Asia Selatan.Salah satu contoh Gapoktan Halaban di Nagari Halaban, Kecamatan Sago Halaban, Kabupaten Lima Puluh Kota, Provinsi Sumatera Barat yang mengembangkan produk gambir. Adapun beberapa permasalahan menyangkut produksi gambir khususnya di daerah Kabupaten Limapuluh Kota, Provinsi Sumatra Barat. Permasalahan tersebut kaitannya dengan tata niaga, kualitas, dan hiegienis dari produk gambir yang dihasilkan. Dalam hal ini perlu dibentuk sistim kelembagaan pengusahaan gambir yang kuat mulai dari petani sampai kepada konsumennya, sehingga petani gambir yang merupakan produsen tingkat pertama dalam pengusahaan gambir dapat ikut merasakan pembagian keuntungan secara adil dari gambir yang dihasilkan. (Sumber: Disbun Sumbar, data media, data diolah Hero13)

berita lain