berita
Membenahi Tata Niaga Ayam Potong
Jakarta (15/9), PPHP News : Kebijakan pembenahan tata niaga ayam potong merupakan hal yang sangat krusial, mengingat besarnya kebutuhan masyarakat akan pangan asal ternak ini. Sehingga apabila terjadi gejolak harga ayam di pasar, implikasinya lebih berbahaya dibanding daging sapi.

Selasa, 15 Sept 2015


Ayam ras pedaging merupakan sumber protein hewani terbesar yang dikonsumsi oleh masyarakat Indonesia. Tidak seimbangnya pasokan dan permintaan daging ayam ras pedaging menyebabkan instabilitas harga dan berpengaruh pada laju inflasi. Inflasi kerap disebabkan oleh kenaikan harga dari komponen bahan makanan asal ternak utamanya daging ayam.  BPS merilis Juni lalu kenaikan harga daging ayam ras mencapai 4,72 persen disebabkan karena permintaan naik menjelang puasa dan lebaran. Kenaikan harga daging ayam ras pedaging menyumbang inflasi sebesar 0,06 persen dengan bobot kontribusi mencapai 1,22 persen
 

Produksi dan pasokan daging ayam ras pedaging

Data permintaan daging ayam hanya menjadi patokan, sebab permintaan masyarakat terhadap daging ayam sangat dinamis dan rumit untuk dihitung.  Berdasarkan data Japfa Comfeed, pasokan ayam khusus DKI, Banten dan Jawa Barat mencapai 35 persen dari total market share nasional. Pasokan ayam dihitung dari produksi ayam hidup dan sangat bergantung dari faktor teknis budidaya dan produksi DOC di breeding farm. Comfeed merinci, jumlah pasokan ayam ras pedaging nasional rata-rata tiap tahun sebesar 2,4 miliar ekor. Market share ayam hidup (live bird) khusus DKI Jakarta, Jawa Barat dan Banten 35 persen dari total pasokan nasional sebesar 840 juta ekor setahun.

Berdasarkan data pasokan ayam dimaksud, dapat dipahami kebutuhan ayam ras pedaging untuk wilayah DKI Jakarta, Jawa Barat dan Banten sebesar atau 17,5 juta ekor per minggu. Apabila dikonversi menjadi karkas dan daging dengan asumsi rata-rata bobot hidup ayam 1,9 kg (umur 6 minggu) maka beratnya adalah  21 ribu ton untuk karkas dan 12,7 ribu ton untuk daging per minggu dipasok ke tiga Provinsi itu.

Gejolak harga daging ayam ras pedaging

Dua minggu setelah lebaran lalu, harga ayam ras pedaging di Jabodetabek dan wilayah lain di Jawa terkoreksi mengalami kenaikan signifikan dari rata-rata 30 ribu menjadi 40 ribu. Padahal biasanya turun setelah lebaran, ini merupakan anomali akibat pasokan berkurang dan pengaruh meningkatnya harga daging sapi.  Kenaikan harga ayam ras pedaging adalah imbas dari melonjaknya daging sapi mencapai 140 ribu per kilo yang disertai turunnya permintaan masyarakat.  Hal ini bisa dipahami, ketika harga daging sapi naik dan masyarakat tidak sanggup membeli maka pilihannya adalah beralih ke daging ayam ras pedaging.  Permintaan daging ayam ras pedaging menjadi melonjak dan ternyata tidak diikuti dengan peningkatan pasokan ayam dari peternak.  

Memasuki September, harga ayam ras pedaging di Jabodetabek dan wilayah lain terpantau kembali normal. Sejak awal September lalu rata-rata harga daging ayam ras tingkat eceran Rp. 30-33 ribu per kilo. Namun harga live bird tingkat peternak di beberapa Kabupaten di Jawa hanya Rp. 12-15 ribu per kilogram, harga dibawah HPP Rp. 17.500 per kilogram (Harga Pokok Produksi).

Menurut pantauan Petugas Informasi Pasar (PIP), harga ayam hidup tanggal 12 September 2015 tingkat peternak di Depok, Parung, Bogor, Bekasi, Sukabumi, Cianjur dan Subang rata-rata 12-13 ribu per kilogram.   Di tempat lain seperti Serang dan Tangerang juga relatif sama yaitu Rp. 12-13 ribu per kilogram ayam hidup.  Sementara di Provinsi Jawa Tengah dan Jawa Timur, harga rata-rata Rp. 12-14 ribu per kilogram. Harga ayam hidup terendah terjadi di Bengkulu yang hanya Rp. 10 ribu per kilogram dan harga tertinggi di Menado mencapai Rp. 21 ribu per kilogram.   

Berdasarkan deskripsi ikhtisar di atas, dapat diamati lonjakan harga daging ayam ras pedaging hanya berlangsung pada bulan Agustus dan kenaikan terjadi hanya pada tingkat konsumen. Padahal kenaikan harga live bird tingkat peternak hanya Rp. 2 ribu per kilogram, dari Rp. 17 ribu menjadi Rp. 19 ribu per kilogram.  Memasuki September harga daging ayam eceran kembali berangsur turun, per kilogram sampai Rp. 30 ribu.  Harga live bird  di tingkat peternak anjlok sampai level terendah sepanjang tahun ini  Rp. 10 ribu perkilogram, jauh dibawah HPP.  Gejolak harga daging ayam ras pedaging di tingkat eceran dan jatuhnya harga ayam di tingkat peternak menuntut perhatian besar dari Pemerintah.  Praktisnya, perlu menyeimbangkan antara besarnya pasokan dan permintaan atau kebutuhan (supply demand).

Secara umum, komoditas pangan termasuk di dalamnya asal ternak berada pada struktur pasar monopsonistik. Petani ternak sebagai produsen dan jumlahnya yang banyak berhadapan dengan satu atau segelintir saja pedagang sebagai penjual, dan pedagang ini banyak disebut dengan istilah broker.  Broker inilah yang sebenarnya mengendalikan harga ayam di pasaran.  Sebenarnya Pemerintah perlu memberikan akses pemasaran kepada peternak ayam mandiri, bisa memediasi kemitraan peternak dengan industri pengolahan atau hotel dan restoran, sehingga dapat menekan peran para broker-broker.       

Pentingnya Akurasi Data

Sejauh ini langkah yang selalu dilakukan pemerintah untuk mengatasi gejolak daging ayam ras baru sebatas solusi jangka pendek dan terkesan tambal sulam.  Upaya itu adalah menutupi kekosongan pasar sesaat hanya dengan menambah pasokan dan selalu berulang tiap tahun.  Agar tidak ada lagi kemelut lonjakan harga daging ayam akibat tidak seimbangnya supply-demand, pemerintah harus memiliki data akurat tentang produksi dan pasokan daging ayam.  Data yang belum akurat justru akan kontra produktif dan mengundang kontroversi, sehingga arah kebijakan atau program yang dilaksanakan menjadi tidak tepat.

Akurasi data yang rendah menyebabkan overestimasi atau underestimasi dalam menghitung proyeksi produksi dan pasokan daging ayam. Informasi yang benar mengenai kapasitas produksi dan pasokan ayam, dapat dengan mudah dilakukan pengendalian seperti penambahan pasokan dari daerah surplus.

Proyeksi Produksi DOC Menentukan Data Produksi Ayam        

Peternakan ayam ras pedaging sebenarnya merupakan industri biologis yang dapat dengan mudah diprediksi kapasitas produksi dan pasokannya di lapangan.  Proyeksi itu dapat dilakukan dengan menghitung produksi DOC (Day Old Chick) final stock ayam ras pedaging,  dengan cara menghitung biaya produksi pakan, besarnya impor GPS (Grand Parent Stok) dan HE (Hatching eggs) PS (Parent Stok).

Contoh proyeksi produksi DOC tahun 2005, diketahui dengan memperhitungkan jumlah produksi pakan. Jumlah produksi pakan khusus ayam ras pedaging nasional tercatat 2.609.840 ton, apabila rata-rata berat panen 1,5 kilogram (konsumsi pakan 2,4 kg per ekor) maka pakan ternak itu akan setara dengan 1.096.000 ekor DOC atau dengan memperhitungkan angka deplesi 8-10 persen menjadi 1,04 miliar ekor ayam (live bird).

Pengaturan Importasi HE GPS untuk prediksi pasokan DOC

Proyeksi produksi DOC juga dapat dihitung dengan melihat besarnya importasi HE GPS dan PS.  Kebutuhan ayam ras pedaging Tahun 2015 sebanyak 2,4 miliar ekor dihasilkan dari bibit yang berasal indukan (PS) sebanyak 17 juta ekor. Parameter teknis yang digunakan adalah, setiap indukan (PS) yang dipelihara di breeding farm memiliki produktivitas telur tetas 165 butir dengan rataan daya tetas 85 persen menjadi 140 ekor selama satu siklus produksi (60 minggu).  Selanjutnya sebanyak 17 juta ekor indukan (PS) dihasilkan dari bibit PS yang berasal dari galur nenek (GPS) sebanyak 121.429 ekor.  Sementara pengadaan GPS berasal dari Amerika Serikat, Perancis dan Belanda, sehingga sebenarnya produksi DOC ayam ras pedaging tahun ini berasal dari telur tetas GPS yang diimpor 2 tahun yang lalu.  (Rtz)    

Ayam ras pedaging merupakan sumber protein hewani terbesar yang dikonsumsi oleh masyarakat Indonesia. Tidak seimbangnya pasokan dan permintaan daging ayam ras pedaging menyebabkan instabilitas harga dan berpengaruh pada laju inflasi. Inflasi kerap disebabkan oleh kenaikan harga dari komponen bahan makanan asal ternak utamanya daging ayam.  BPS merilis Juni lalu kenaikan harga daging ayam ras mencapai 4,72 persen disebabkan karena permintaan naik menjelang puasa dan lebaran. Kenaikan harga daging ayam ras pedaging menyumbang inflasi sebesar 0,06 persen dengan bobot kontribusi mencapai 1,22 persen
 

Produksi dan pasokan daging ayam ras pedaging

Data permintaan daging ayam hanya menjadi patokan, sebab permintaan masyarakat terhadap daging ayam sangat dinamis dan rumit untuk dihitung.  Berdasarkan data Japfa Comfeed, pasokan ayam khusus DKI, Banten dan Jawa Barat mencapai 35 persen dari total market share nasional. Pasokan ayam dihitung dari produksi ayam hidup dan sangat bergantung dari faktor teknis budidaya dan produksi DOC di breeding farm. Comfeed merinci, jumlah pasokan ayam ras pedaging nasional rata-rata tiap tahun sebesar 2,4 miliar ekor. Market share ayam hidup (live bird) khusus DKI Jakarta, Jawa Barat dan Banten 35 persen dari total pasokan nasional sebesar 840 juta ekor setahun.

Berdasarkan data pasokan ayam dimaksud, dapat dipahami kebutuhan ayam ras pedaging untuk wilayah DKI Jakarta, Jawa Barat dan Banten sebesar atau 17,5 juta ekor per minggu. Apabila dikonversi menjadi karkas dan daging dengan asumsi rata-rata bobot hidup ayam 1,9 kg (umur 6 minggu) maka beratnya adalah  21 ribu ton untuk karkas dan 12,7 ribu ton untuk daging per minggu dipasok ke tiga Provinsi itu.

Gejolak harga daging ayam ras pedaging

Dua minggu setelah lebaran lalu, harga ayam ras pedaging di Jabodetabek dan wilayah lain di Jawa terkoreksi mengalami kenaikan signifikan dari rata-rata 30 ribu menjadi 40 ribu. Padahal biasanya turun setelah lebaran, ini merupakan anomali akibat pasokan berkurang dan pengaruh meningkatnya harga daging sapi.  Kenaikan harga ayam ras pedaging adalah imbas dari melonjaknya daging sapi mencapai 140 ribu per kilo yang disertai turunnya permintaan masyarakat.  Hal ini bisa dipahami, ketika harga daging sapi naik dan masyarakat tidak sanggup membeli maka pilihannya adalah beralih ke daging ayam ras pedaging.  Permintaan daging ayam ras pedaging menjadi melonjak dan ternyata tidak diikuti dengan peningkatan pasokan ayam dari peternak.  

Memasuki September, harga ayam ras pedaging di Jabodetabek dan wilayah lain terpantau kembali normal. Sejak awal September lalu rata-rata harga daging ayam ras tingkat eceran Rp. 30-33 ribu per kilo. Namun harga live bird tingkat peternak di beberapa Kabupaten di Jawa hanya Rp. 12-15 ribu per kilogram, harga dibawah HPP Rp. 17.500 per kilogram (Harga Pokok Produksi).

Menurut pantauan Petugas Informasi Pasar (PIP), harga ayam hidup tanggal 12 September 2015 tingkat peternak di Depok, Parung, Bogor, Bekasi, Sukabumi, Cianjur dan Subang rata-rata 12-13 ribu per kilogram.   Di tempat lain seperti Serang dan Tangerang juga relatif sama yaitu Rp. 12-13 ribu per kilogram ayam hidup.  Sementara di Provinsi Jawa Tengah dan Jawa Timur, harga rata-rata Rp. 12-14 ribu per kilogram. Harga ayam hidup terendah terjadi di Bengkulu yang hanya Rp. 10 ribu per kilogram dan harga tertinggi di Menado mencapai Rp. 21 ribu per kilogram.   

Berdasarkan deskripsi ikhtisar di atas, dapat diamati lonjakan harga daging ayam ras pedaging hanya berlangsung pada bulan Agustus dan kenaikan terjadi hanya pada tingkat konsumen. Padahal kenaikan harga live bird tingkat peternak hanya Rp. 2 ribu per kilogram, dari Rp. 17 ribu menjadi Rp. 19 ribu per kilogram.  Memasuki September harga daging ayam eceran kembali berangsur turun, per kilogram sampai Rp. 30 ribu.  Harga live bird  di tingkat peternak anjlok sampai level terendah sepanjang tahun ini  Rp. 10 ribu perkilogram, jauh dibawah HPP.  Gejolak harga daging ayam ras pedaging di tingkat eceran dan jatuhnya harga ayam di tingkat peternak menuntut perhatian besar dari Pemerintah.  Praktisnya, perlu menyeimbangkan antara besarnya pasokan dan permintaan atau kebutuhan (supply demand).

Secara umum, komoditas pangan termasuk di dalamnya asal ternak berada pada struktur pasar monopsonistik. Petani ternak sebagai produsen dan jumlahnya yang banyak berhadapan dengan satu atau segelintir saja pedagang sebagai penjual, dan pedagang ini banyak disebut dengan istilah broker.  Broker inilah yang sebenarnya mengendalikan harga ayam di pasaran.  Sebenarnya Pemerintah perlu memberikan akses pemasaran kepada peternak ayam mandiri, bisa memediasi kemitraan peternak dengan industri pengolahan atau hotel dan restoran, sehingga dapat menekan peran para broker-broker.       

Pentingnya Akurasi Data

Sejauh ini langkah yang selalu dilakukan pemerintah untuk mengatasi gejolak daging ayam ras baru sebatas solusi jangka pendek dan terkesan tambal sulam.  Upaya itu adalah menutupi kekosongan pasar sesaat hanya dengan menambah pasokan dan selalu berulang tiap tahun.  Agar tidak ada lagi kemelut lonjakan harga daging ayam akibat tidak seimbangnya supply-demand, pemerintah harus memiliki data akurat tentang produksi dan pasokan daging ayam.  Data yang belum akurat justru akan kontra produktif dan mengundang kontroversi, sehingga arah kebijakan atau program yang dilaksanakan menjadi tidak tepat.

Akurasi data yang rendah menyebabkan overestimasi atau underestimasi dalam menghitung proyeksi produksi dan pasokan daging ayam. Informasi yang benar mengenai kapasitas produksi dan pasokan ayam, dapat dengan mudah dilakukan pengendalian seperti penambahan pasokan dari daerah surplus.

Proyeksi Produksi DOC Menentukan Data Produksi Ayam        

Peternakan ayam ras pedaging sebenarnya merupakan industri biologis yang dapat dengan mudah diprediksi kapasitas produksi dan pasokannya di lapangan.  Proyeksi itu dapat dilakukan dengan menghitung produksi DOC (Day Old Chick) final stock ayam ras pedaging,  dengan cara menghitung biaya produksi pakan, besarnya impor GPS (Grand Parent Stok) dan HE (Hatching eggs) PS (Parent Stok).

Contoh proyeksi produksi DOC tahun 2005, diketahui dengan memperhitungkan jumlah produksi pakan. Jumlah produksi pakan khusus ayam ras pedaging nasional tercatat 2.609.840 ton, apabila rata-rata berat panen 1,5 kilogram (konsumsi pakan 2,4 kg per ekor) maka pakan ternak itu akan setara dengan 1.096.000 ekor DOC atau dengan memperhitungkan angka deplesi 8-10 persen menjadi 1,04 miliar ekor ayam (live bird).

Pengaturan Importasi HE GPS untuk prediksi pasokan DOC

Proyeksi produksi DOC juga dapat dihitung dengan melihat besarnya importasi HE GPS dan PS.  Kebutuhan ayam ras pedaging Tahun 2015 sebanyak 2,4 miliar ekor dihasilkan dari bibit yang berasal indukan (PS) sebanyak 17 juta ekor. Parameter teknis yang digunakan adalah, setiap indukan (PS) yang dipelihara di breeding farm memiliki produktivitas telur tetas 165 butir dengan rataan daya tetas 85 persen menjadi 140 ekor selama satu siklus produksi (60 minggu).  Selanjutnya sebanyak 17 juta ekor indukan (PS) dihasilkan dari bibit PS yang berasal dari galur nenek (GPS) sebanyak 121.429 ekor.  Sementara pengadaan GPS berasal dari Amerika Serikat, Perancis dan Belanda, sehingga sebenarnya produksi DOC ayam ras pedaging tahun ini berasal dari telur tetas GPS yang diimpor 2 tahun yang lalu.  (Rtz)    

berita lain