OPINI
CEMARAN LISTERIA MONOCYTOGENES PADA PANGAN SEGAR ASAL TUMBUHAN

Pangan merupakan kebutuhan pokok bagi manusia. Pangan dikelompokkan menjadi :
• Pangan segar
• Pangan segar dengan olahan minimal
• Pangan olahan.
Agar pangan yang dikonsumsi bermanfaat bagi manusia, pangan yang dikonsumsi haruslah dijamin aman. Untuk ketiga kelompok pangan (pangan segar, pangan segar dengan olahan minimal dan pangan olahan), harus dijamin aman sebelum dikonsumsi. Pangan dianggap aman apabila memenuhi beberapa hal berikut :
• Bebas dari residu atau cemaran bahan kimia berbahaya
• Mengandung residu bahan kimia yang diijinkan dibawah ambang batas maximum
• Bebas dari mikroba pathogen yang dilarang
• Mengandung cemaran mikroba pathogen dibawah ambang batas.
Berdasarkan keempat hal diatas, telah ditetapkan beberapa Standar Nasional Indonesia, yang menetapkan, persyaratan batas maksimum residu pestisida, cemaran bahan kimia berbahaya dan batas maksimum cemaran mikroba dalam pangan. Standar Nasional Indonesia yang mengatur batas maksimum residu pestisida dan cemaran bahan kimia, adalah Standar Nasional Indonesia (SNI) no 7313 : 2008 tentang Batas Maksimum residu pestisida dan bahan kimia. Sedangkan standar nasional yang mengatur tentang Batas Maksimum Cemaran Mikroba adalah : Standar Nasional Indonesia (SNI) no. 7388 : 2009 tentang Batas Maksimum Cemaran Mikroba pada pangan.
Standar Nasional Indonesia (SNI) no. 7388 : 2009 tentang Batas Maksimum Cemaran Mikroba pada pangan, mengatur tentang batas maksimum cemaran mikroba pada pangan segar dan pangan olahan. Namun demikian Batas Maksimum Cemaran Mikroba yang diatur pada pangan segar,  terbatas pada cemaran mikroba Salmonella sp dan Eschericia coli. Berdasarkan perkembangan kasus wabah akibat konsumsi pangan segar, saat ini ditengarai Listeria monocytogenes merupakan salah satu agent pathogen penyebab. Namun demikian, sampai saat ini, dalam Standar Nasional Indonesia (SNI) no. 7388 : 2009 tentang Batas Maksimum Cemaran Mikroba pada pangan, pada bagian cemaran mikroba pada pangan segar,
Listeria monocytogenes, tidak termasuk mikroba yang menjadi tolok ukur keamanan pangan pada pangan segar.
Kajian ini, dimaksudkan untuk mengkaji, alasan mengapa Listeria monocytogenes sudah selayaknya dimasukkan sebagai salah satu parameter untuk keamanan pangan segar. Pangan segar yang dimaksud adalah sayur dan buah segar atau sayur dan buah yang diberi perlakuan minimal.
Kajian dilakukan melalui study literature, berdasarkan journal dan atau peraturan atau pedoman keamanan pangan segar.

Tujuan
Tujuan dari pengkajian terhadap Listeria monocytogenes, adalah mengevaluasi keberadaan  cemaran Listeria monocytogenes pada pangan segar sebagai salah satu parameter ketidak amanan pangan segar, yang mencakup sayur dan buah segar.

Karakteristik Listeria monocytogenes

Listeria monocytogenes merupakan mikroba yang hidup secara facultative anaerob dan memiliki sifat gram positive, berbentuk cocobacillus, dan memiliki ukuran panjang 0,5 – 2 um dan diameter 0,5 um. (daftar pustaka 1, daftar pustaka 3,daftar pustaka  4, daftar pustaka 9). Disamping itu, Listeria monocytogenes memiliki kemampuan untuk tumbuh pada suhu rendah dan mampu berkembang biak pada suhu 1- 45 ‚óŹ C serta mampu bertahan hidup pada lingkungan dengan ph 4,3 – 9,6. (daftar pustaka 1, daftar pustaka 3 )
Sampai saat ini, Listeria monocytogenes terdiri dari 11 sero var, namun yang sering menjadi penyebab infeksi pada hewan dan manusia adalah serovar 4b, serovar1/2b dan serovar 1/2a. (daftar pustaka 1, daftar pustaka 3)
Agen perantara Listeria monocytogenes
Agen perantara atau pembawa Listeria monocytogenes antara lain Tanah, manure, sayur, hijauan pakan ternak (silage), air, pakan ternak, produk pangan asal unggas (segar dan beku) dan daging olahan, susu segar, keju, limbah RPH/RPU, dan hewan dan manusia pembawa tanpa gejala. (daftar pustaka  4)
Listeria monocytogenes menginfeksi pangan segar (sayur dan buah) melalui stomata pada daun. Sejak Listeria monocytogenes ditemukan dalam tanah, jalan masuk Listeria monocytogenes  ke daun, lebih sering terjadi, daripada masuknya Listeria monocytogenes selama masa pertumbuhan. (daftar pustaka 11)
Beberapa kajian,. memperlihatkan bahwa buah dan tanaman sayur terkontaminasi pada saat pasca panen, karena terdapat perbedaan suhu yang cukup besar antara tanaman dengan air pencuci, untuk menggerakkan air kedalam jaringan tanaman. (daftar pustaka 11) Cara mikroba masuk berikutnya, adalah mikroba dipindahkan melalui aliran air yang masuk ketanaman dan bergerak didalamnya. (daftar pustaka 11)
Kontaminasi Listeria monocytogenes terhadap sayur atau buah, dapat terjadi pada saat pertumbuhan (pengaruh tanah, pupuk, air irigasi,kotoran hewan atau burung), pada saat pemanenan, prosesing (termasuk pencucian), distribusi, pemasaran dan konsumsi daftar pustaka 14.
Dari beberapa study, didapatkan data bahwa Listeria monocytogenes berkembang baik padaLettuce yang sudah yang sudah dikelupas, dan populasinya akan meningkat selama penyimpanan (daftar pustaka 11). Listeria monocytogenes berkembang baik pada buah tomat yang masih baik. (daftar pustaka 11) Disisi lain, Listeria monocytogenes tidak tumbuh pada wortel, kubis,cabai dan melon cantaloupe yang utuh. Namun demikian Listeria monocytogenes pada wortel, kubis,cabai dan melon cantaloupe potong. (daftar pustaka 11)

Induk semang yang diserang
Listeria monocytogenes dapat diisolasi dari dari berbagai organism, termasuk manusia dan mamalia lain, ikan, udang dan serangga. (daftar pustaka  4,daftar pustaka 10)

Pathogenesis
Serangan Listeria monocytogenes mulai menjadi penyebab penyakit, pada tahun 1920. Serangan atau wabah liseteriosis jarang terjadi, akan tetapi bila terjadi,dapat mengakibatkan tingkat kematian sebesar 50 % (lima puluh persen).(daftar pustaka 1, daftar pustaka 3).
Terdapat beberapa kelompok masyarakat yang merupakan kelompok yang rentan terhadap serangan listeriosis. Kelompok yang rentan ini antara lain :
• Kelompok wanita hamil
• Bayi terlahir dari ibu yang terserang listeriosis
• Kelompok masyarakat yang memiliki masalah dengan kekebalan tubuh
• Kelompok masyarakat penderita diabetes
• Kelompok masyarakat pecandu alcohol
• Kelompok  masyarakat penderita kanker
• Kelompok masyarakat penderita leukemia  (daftar pustaka 10)
Secara umum, listeriosis menyebabkan demam ringan dengan beberapa bentuk, antara lain : listeriosis pada kehamilan, listeriosis yang menyebabkan gangguan pada system syaraf pusat,gastroenteritis yang disertai demam, listeriosis pada kelenjar getah bening, bentuk serangan listeriosis lokal, listeriosis typhoid dan listeriosis atype. daftar pustaka 10)

Listeriosis pada kehamilan
Listeriosis biasanya menyerang wanita pada kehamilan tri mester ke tiga (setelah kehamilan 6 bulan). Listeriosis pada kehamilan ditandai dengan gejala “seperti flu”, antara lain : demam, kedinginan, lemah, sakit pada persendian, sakit pada punggung dan diare.daftar pustaka 5, daftar pustaka 6 dan daftar pustaka 10)
Pada kebanyakan kasus terjadi secara subklinis atau tidak memunculkan gejala klinis. Namun demikian infeksi listeriosis merupakan infeksi yang bersifat intrauterine,yang berarti apabila ibu hamil terserang listeriosis, janin dapat tertular pula melalui placenta. Apabila terjadi janin tertular listeriosis, janin yang terinfeksi dapat mengalami kematian, keguguran spontan, kelahiran premature, atau bayi dapat lahir akan tetapi meninggal dalam waktu singkat setelah kelahiran. daftar pustaka 5, daftar pustaka 6 dan daftar pustaka 10)
Bayi baru lahir yang bertahan hidup dengan listeriosis, sering memunculkan gejala klinis dalam waktu cepat atau dalam waktu lambat. Kemunculan gejala listeriosis pada bayi setelah kelahiran karena infeksi melalui placenta, sering memunculkan gejala pneumonia dan atau sepsis. daftar pustaka 9, daftar pustaka 13) Penyakit yang parah dapat menyebabkan jaringan granuloma yang menyebar . daftar pustaka 9, daftar pustaka 13)
Listeriosis yang terjadi setelah kelahiran yang muncul dalam waktu yang lambat, terjadi akibat infeksi selama proses kelahiran. Listeriosis jenis ini akan memunculkan gejala meningitis dalam waktu 1 sampai dengan beberapa minggu setelah kelahiran. Tingkat kematian (mortalitas) pada bayi dengan listeriosis berkisar  20 – 30 %. (daftar pustaka 9)

Listeriosis pada System Syaraf Pusat
Gejala yang paling sering timbul dari listeriosis (infeksi listeria) yang menyerang system syaraf pusat adalah meningitis, yang mencakup gejala klinis seperti demam tinggi, kaku leher,tremor dan atau ataxia, dan kejang kejang. Bentuk non meningitis lain yang sering muncul dari listeriosis pada system syaraf pusat adalah  Rhombenchepalitis daftar pustaka 6.

Gastroenteritis disertai demam
Bentuk serangan yang tidak ganas dari listerios adalah  gejala gastroenteritis, contohnya demam yang disertai dengan diare dan muntah daftar pustaka 6 daftar pustaka 9, daftar pustaka 10)

Epidemiologi
Listeriosis terjadi diseluruh dunia, tetapi yang terlihat hanyalah dinegara Negara industry. (Footnote 3, Footnote 4).Walaupun L.monocitogenes telah diketahui sebagai agen penyakit terhadap manusia sejak tahun 1920, akan tetapi dokumen wabah pertama yang disebabkan oleh listeriosis ditemukan pada tahun 1979, yaitu terjadi pada 23 pasien di rumah sakit Boston (Footnote 3, Footnote 5). Konfirmasi wabah penyakit yang menular melalui makanan, terjadi di kanada, dan penghubungan pertama  antara kasus listeriosis dengan pangan, dilakukan pada tahun 1981 di provinsi Maritime dan diketahui disebabkan oleh kubis yang terkontaminasi dalam coleslaw. (Footnote 5)Wabah berikutnya, terjadi selama tahun tahun berikut dan sering dihubungkan dengan jenis jenis pangan khusus, dari
- produk sayuran di awal tahun1980
- produk susu dipertengahan tahun 1980 dan diawal tahun 1990
- produk daging siap saji dan produk unggas diakhir tahun 1990 sampai
- awal tahun 2000
Pada tahun 1999 di USA, terjadi 101 kasus kesakitan dengan 21 kasus fatal, akibat infeksi listeriosis. Data terbaru menyebutkan pada tahun 2008, Agustus, terjadi 57 kasus yang dikonformasi dengan 22 kasus dilaporkan mengakibatkan kematian, akibat infeksi listeria. Footnote 2, Footnote 7)
Kasus listeriosis di USA, menunjukkan jumlah angka kesakitan setiap tahunnya adalah 1591 kasus, sebanyak 1455 kasus atau 94 % dirawat di rumah sakit. Sementara itu 255 kasus atau 15,9 % kasus berakhir dengan kematian.daftar pustaka 15.

Dosis Infeksi
Perkiraan  dosis infeksi dari listeria monocitogenes diperkirakan 10 – 100 juta CFU pada inang yang sehat, dan hanya 0,1-10 jua CFU pada individu beresiko tinggi

Cara penularan
Penularan  Listeria monocytogenes dapat menular melalui beberapa cara, antara lain :
• Konsumsi sayur atau buah yang terkontaminasi Listeria monocytogenes
• Penularan melalui placenta pada ibu hamil yang terinfeksi listeriosis
• Penularan dari ibu ke anak selama proses kelahiran(Footnote 3, Footnote 9, Footnote 10, Footnote 13).
• Kontak langsung dengan hewan terinfeksi listeriosis daftar pustaka 14
• Penularan secara nosokomial. daftar pustaka 1

Masa Inkubasi
Masa inkubasi listeriosis bervariasi, tergantung cara penularan dan dosis yang diterima. Biasanya berkisar antara 1 sampai dengan 4 minggu. Namun demikian dalam beberapa kasus, masa inkubasi bisa lebih lama, sampai beberapa bulan. Jenis listeriosis dengan gejala gastroenteritis yang disertai dengan demam memiliki masa inkubasi paling singkat yaitu : 18 sampai dengan 20 jam. (Footnote 4, Footnote 10)

Jenis komoditas pangan segar tercemar Listeria monocytogenes
Beberapa komoditas pangan segar, khususnya sayur dan buah pernah didapatkan terkontaminasi Listeria monocytogenes. Komoditas tersebut antara lain :
• Melon Canteloup  di Kanada pada tahun 2011
• Seledri  di Texas tahun 2010
• Brocolli  di USA tahun 2013
• Jagung di USA tahun 1997
• Kacang Hijau  di Malaysia
• Kubis di Kanada tahun 1983
• Mentimun di Malaysia tahun 1994
• Mentimun di Pakistan tahun 1992
• Wortel di Saudi Arabia tahun 1993
• Sayur daun daunan di Malaysia tahun 1994
• Letucce di kanada tahun 1997, di saudi Arabia tahun 1993
• Kentang di Saudi Arabia (1993), di Spanyol tahun 1992, di USA tahun 1989
• Cabai di kanada tahun 1997
• Tomat di Pakistan tahun 1992

Pembahasan
Dari sumber literatur diatas, tentang Listeria monocytogenes memperlihatkan bahwa Listeria monocytogenes merupakan mikroba yang memiliki banyak perantara, dimana sebagaian besar inang perantara tersebut merupakan sarana dalam proses budidaya buah dan sayur. Beberapa inang perantara tersebut, adalah tanah, manure atau yang biasa digunakan sebagai pupuk kandang, dan air. Disamping itu secara umum listeria merupakan mikroba yang secara alami juga didapatkan pada lingkungan.
Sisi lain, yang membuat mikroba ini menjadi penting untuk keamanan pangan segar adalah adanya kelompok manusia yang rentan terhadap infeksi Listeria monocytogenes. Terhadap kelompok rentan ini dosis respon yang diperlukan  oleh Listeria monocytogenes untuk menginfeksi relative sangat kecil , 0,1 – 10 juta CFU. Akibat infeksi Listeriosis memiliki keparahan yang sangat tinggi, yaitu dapat menimbulkan gangguan kehamilan (abortus spontan, kematian setelah kelahiran), gangguan pada sistem syaraf pusat dan gastroenteritis disertai demam. Tingkat kematian yang tinggi (50 %) akan terjadi, apabila terjadi infeksi.
Disisi lain, cara budidaya secara umum Di Indonesia belum menerapkan GAP secara taat azaz. Dengan demikian, resiko pangan segar selama proses produksi menjadi sangat tinggi. Resiko ini diperparah, dengan penanganan pasca panen yang belum sesuai GHP. Ketidak taatan menerapkan GHP, dapat menyebabkan kontaminasi silang dari pekerja ke sayur atau produk buah tsb. Untuk GHP, sangat perlu diperhatikan pada proses produksi buah atau sayur potong.
Data yang didapatkan dari literature, terdapat banyak komoditas pangan segar yang terkontaminasi oleh Listeria monocytogenes. Dengan demikian, sudah cukup alasan untuk memasukkan keberadaan cemaran Listeria monocytogenes sebagai para meter ketidak amanan untuk pangan segar  dalam Standar Nasional Indonesia (SNI) tentang Batas Maksimum Cemaran Mirkoba pada pangan segar asal tumbuhan.

Kesimpulan
Pengujian cemaran Listeria monocytogenes pada pangan segar asal tumbuhan sudah selayaknya dibakukan dalam Standar Nasional Indonesia (SNI) Batas Maksimum Cemaran Mikroba pada pangan segar asal tumbuhan, sebagai parameter keamanan pangan pangan segar yang harus diacu, untuk menjamin kesehatan masyarakat yang mengkonsumsi pangan segar asal tumbuhan.
Daftar Pustaka
Abelson, P., Potter Forbes, M., Hall, G. (2006).   The annual cost of foodborne illness in Australia. (Accessed on August 31, 2010).
ACMSF (Advisory Committee on the Microbiological Safety of Food). (2009).   Report on the increased incidence of listeriosis in the UK. Ad Hoc Group on Vulnerable Groups. (Accessed on March 28, 2011).
Anonymous. (1985).   Epidemiologic notes and reports Listeriosis outbreak associated with Mexican-style cheese - California. CDC-MMWR, 34: 357-359.
Anonymous. (1998).   Multistate outbreak of listeriosis - United States, 1998. CDC- MMWR, 47: 1085-1086.
Anonymous. (1999). Multistate outbreak of listeriosis- United States, 1998-1999. CDC-MMWR, 47: 1117.
Anonymous. (2002).   Public Health Dispatch: Outbreak of listeriosis - Northeastern United States, 2002. CDC-MMWR, 51: 950-951.
Aureli, P., Fiorucci, G.C., Caroli, D., Marchiaro, G., Novara, O., Leone, L. and Salmaso, S. (2000). An outbreak of febrile gastroenteritis associated with corn contaminated by Listeria monocytogenes. N. Eng. J. Med., 342: 1236-1241.
Baker, M., Brett, M., Short, P., Calder, L. and Thornton, R. (1993). Listeriosis and mussels. CDNZ, 93: 12-15.
Beuchat, L.R. and Brackett, R.E. (1990). Inhibitory effects of raw carrots on Listeria monocytogenes. App. Environ. Microbiol., 56: 1734-1742.
Bille, J. (1990). Epidemiology of human listeriosis in Europe, with special reference to the Swiss outbreak. In: Foodborne listeriosis. Miller, A.J., Smith J.L., and Somkuti G.A. (Eds), Society for Industrial Microbiology, Elsevier Science Publishing Inc., New York.
Bille, J., Blanc, D.S., Schmid, H., Boubaker, K., Baumgartner, A., Siegrist, H.H., Tritten, M.L., Lienhard, R., Berner, D., Anderau, R., Treboux, M., Ducommun, J.M., Malinverni, R. Genné, D, Erard, P.H. and Waespi, U. (2006).   Outbreak of human listeriosis associated with Tomme cheese in Northwest Switzerland, 2005. Euro. Surveill., 11: 91-93. (Accessed on August 27, 2010).
Boggs, J.D., Whitwam, R.E., Hale, L.M., Briscoe, R.P., Kahn, S.E., MacCormack, J.N., Maillard, J-M., Grayson, S.C., Sigmon, K.S., Reardon, J.W., Saah, J.R. and EIS officers, CDC. (2001).   Outbreak of listeriosis associated with homemade Mexican-style cheese - North Carolina, October 2000 - January 2001. CDC-MMWR, 50: 560-562. and in J. Am. Med. Asso., 286(6): 664-665.
Brett, M.S.Y., Short, P. and McLauchlin, J. (1998). A small outbreak of listeriosis associated with smoked mussels. Int. J. Food Microbiol., 43: 223-229.
Büla, C., Bille, J. and Glauser, M.P. (1995). An epidemic of food-borne listeriosis in western Switzerland: Description of 57 cases involving adults. Clin. Infect. Dis., 20: 66-72.
CFIA (Canadian Food Inspection Agency). (2009). Personal communication.
CFIA (Canadian Food Inspection Agency). (2010).   Meat Hygiene Manual of Procedures Chapter 5. Sampling and Testing (Accessed on March 15, 2011).
Carriedo, G. (2003).   Mexican cheese may cause listeriosis. News release from the city of Laredo Health Department. (Accessed on August 27, 2010).
Carrique-Mas, J.J., Hökeberg, I., Andersson, Y., Arneborn, M., Tham, W., Danielsson-Tham, M.-L., Osterman, B., Leffler, M., Steen, M., Eriksson, E., Hedin, G. and Giesecke, J. (2003). Febrile gastroenteritis after eating on-farm manufactured fresh cheese - an outbreak of listeriosis? Epidemiol. Infect., 130: 79-86.
NSW Govt. Food authority (2009), Food safety risk assessment  of NSW Food Safety Scheme, 67-70
WHO/FSF/FOS/98.2(2007), Surface decontamination of food and Vegetables eaten raw : review, 3- 8
Food Drink inet, University of Nottingham (2013), Risk of Listeria : Fresh Produce : A Guide for food Manufacturer, 1-8
Canada Public Health of Agency (2009), Listeria monocytogenes Pathogen  safety Data Sheet – Infectious Substances.

 

OPINI lain